Teknik Mesin Pendingin Jenis Contact Plate Freezer pada Pembekuan Udang Vannamei (litopenaeus vannamei) di PT Panca Mitra Multi Perdana Kecamatan Kapongan Kabupaten situbondo Jawa Timur
Pada proses pembekuan produk udang, mesin sangatlah berpengaruh pada proses pembekuannya, teknologi mesin pendingin saat ini sangat mempengaruhi kehidupan dunia modern, tidak hanya terbatas untuk peningkatan kualitas dan kenyamanan hidup. Namun juga sudah menyentuh hal-hal esensial penunjang kehidupan manusia, teknologi ini dibutuhkan untuk penyiapan bahan makanan, penyimpanan dan distribusi makanan, proses kimia yang memerlukan pendinginan, pengkondisian udara untuk kenyamanan ruangan baik pada industri, perkantoran, transportasi maupun rumah tangga maupun di sektor perikanan. Maka dari itu perlu adanya peningkatan serta perawatan yang baik guna terjaganya mesin agar mesin dapat bekerja baik dan tidak mengalami kerusakan berlebih.
Adapun tujuan dari Kerja Praktek Akhir (KPA) ini adalah menambah wawasan pengetahuan dan keterampilan yang tentang teknik mesin pendingin jenis contact plate freezer pada pembekuan udang vannamei di PT. Panca Mitra Multi Perdana Situbondo.Kegiatan Kerja Praktek Akhir (KPA) ini telah dilaksanakan selama 80 hari, mulai tanggal 19 Maret 2018 sampai dengan 6 Juni 2018. Adapun tempat pelaksanaan KPA yaitu di PT. Panca Mitra Multi Perdana Situbondo. Metode yang digunakan yaitu metode survei dan magang.
Contact plate freezer (CPF) salah satunya yang biasa digunakan industri pembekuan ikan atau udang vannamei. Contact plate freezer ini mampu membekukan ikan, kerang – kerangan, ataupun udang. Pada mesin Contact plate freezer (CPF) terdapat beberapa komponen yang penting yang menunjang kelancaran dalam proses pembekuan udang vannamei. Apabila terdapat masalah pada mesin Contact plate freezer (CPF) tidak dapat dioperasikan. Maka penting juga untuk dapat memeriksa sebelum mesin Contact plate freezer dioperasikan, merawat dan memelihara serta memperbaikinya. Seperti milik PT. Panca Mitra MultiPerdana Situbondo menggunakan mesin Contact plate freezer (CPF) dengan bahan pendingin amonia (NH3) pada sistem refrigasinya.
Contact plate freezer (CPF) merupakan salah satu jenis pembekuan produk (bahan makanan) yang bekerja dengan Sistem Kompresi Uap (SKU). CPF memiliki empat komponen utama, yaitu: kompresor, kondensor, evaporator dan katup ekspansi. Contact plate freezer (CPF) di PT. PMMP SitubondoTerdiri dari katalis vertikal atau horizontal berongga plate, melalui refrigerant yang di salurkan dengan suhu – 40 ºC. Tekanan kanan diperlukan untuk meningkatkan kontak antara permukaan long pan dan plates dan mereka meningkatkan nilai transfer panas ke dingin.
Adapun bagian-bagian dalam pengoperasian dan sirkulasi pembekuan contact plate freezer (CPF) di PT. Panca Multi Mitra Perdana menggunakan sistem kompresor double stage dengan dua tingkat tekanan dan pada sirkulasi pembekuan mesin contact plate freezer di perusahaan PT. Panca Multi Mitra Perdana menggunakan kondensor evaporatif yang kemudian disirkulasikan menuju receiver tank lalu menuju ke intercooler dan vassel sebagai penampung cairan dan gas refrigrant R-717 yang nantinya akan distribusikan oleh regulating valve sebelum menuju ke tiap-tiap mesin pendingin atau contact plate freezer.
Pengoperasian Contact plate freezer (CPF) di PT. PMMP Situbondo dari tanggal 19 maret – 6 juni beroperasi selama 735 jam dan dalam satu kali proses pembekuannya mesin contact plate freezer ini mampu membekukan udang dengan waktu 3 jam. Pengunaan bahan refigrant ditiap perusahaan memang berbeda-beda, salah satunya penggunaan bahan refrigrant amonia (R-717) meskipun pengunaannya berbahaya namun masih banyak di perusahaan yang menggunaan bahan refrigrant amonia (R-717). Adapun ciri–ciri amonia yaitu amonia merupakan gas yang tidak berwarna namun berbau menyengat, sangat mudah larut dalam air dan bahan refrigrant amonia (R-717) ini juga bersifat korosif pada tembaga dan timah sehingga diperusahaan PT.PMMP Situbondo untuk penggunaan pipanya menggunakan besi,aluminium dan campuran baja.
Sebelum dan sesudah mengoperasikan tentu haruslah ada perawatan pada mesin contact plate freezer (CPF) agar mesin tetap dalam kondisi baik maka dilakukan perawatan yang rutin salah satunya yaitu perawatan pengecekan Kondensor, pengecekan konektor dan kabel, perawatan persediaan bahan amonia, perawatan oli kompresor, running test kompresor dan katub valve serta pembuangan pada endapan tangki yang bisa di tab melalui oil drain.
Permasalahan yang sering dialami di PT. Panca Multi Mitra Perdana adalah bocornya pipa-pipa fleksibel penghubung antar plate mesin contact plate freezer yang disebabkan oleh longgarnya ring dan baud, hal ini membuat cairan dan gas amonia (R-717) keluar dan dapat meracuni pekerja disekiar mesin contact plate freezer. Selain itu kurangnya perawatan dan perbaikan menambah kerusakan yang ada mesin contact plate freezer karena jika dibiarkan terus menerus kebocoran akan semakin bertambah dan untuk mengatasi kebocoran biasanya pekerja mesin hanya memberikanseltip pada penghubung pipa fleksibel dan plate.
Permasalahan lain di PT. Panca Multi Mitra Perdana adalah penggunaan alat pelindung diri (APD) di PT. Panca Multi Mitra Perdana juga kurang dalam penerapannya, meskipun belum terjadi kecelakaan kerja yang berakibat pada terlukanya pekerja mesin namun hal ini akan berbahaya jika tidak menerapkan kesehatan, keselamatan dan kemaanan kerja (K3) yang baik.
Dari hasil Kerja Praktek Akhir (KPA) yang dilakukan di PT. Panca Multi Mitra Perdana, penulis dapat mengambil kesimpulan adalah penggunaan mesin contact plate kurang dalam perawatan sehingga berakibat pada seringnya terjadi kebocoran pada pipa-pipa fleksibel mesin contact plate freezer dan kurangnya kesadaran akan penggunaan alat pelindung diri (APD) dalam penerapan kesehatan, keselamatan dan kemaanan kerja (K3) yang baik.
Dari hasil Kerja Praktek Akhir (KPA) ini saran yang dapat diambil adalah seharusnya mekanik melakukan perawatan mesin contact plate freezer secara rutin agar kebocoran pada pipa-pipa fleksibel penghubung antar plate tidak terjadi kebocoran dan tentunya pengawasan juga harus dilakukan oleh staff mesin agar perawatan dapat dilakukan secara rutin. Penerapan kesehatan, keselamatan dan kemaanan kerja (K3) perlu ditingkatkan agar kecelakaan kerja yang tidak diinginkan tidak terjadi dan bila terjadi akan dapat memperkecil tingkat kecelakaan kerja serta pengawasan dari staff dan pemberian sanksi juga perlu diberikan guna memberikan efek jera pada pelanggar, hal ini dilakukan agar penerapan K3 menjadi baik.







