Manajemen pemasaran ikan tuna (Thunus sp) beku bentuk loin di PT Gilontas Indonesia Kota Denpasar Bali
Potensi perikanan di Indonesia diakui sangat mumpuni dengan luas perairan lautnya yang diperkirakan seluas 5,8 juta km2 serta memiliki garis pantai terpanjang di dunia sebesar 81.000 km. Untuk itu peluang suatu usaha dalam bidang perikanan sangatlah menguntungkan jika bisa menjalankannya dengan baik dan benar. Salah satu yang bisa dikembangkan dalam usaha bidang perikanan adalah usaha pengolahan dengan teknik pembekuan. Dilakukannya proses pembekuan dengan tujuan untuk mencegah kemunduran mutu pada ikan karena pada umumnya semua bahan baku dari perikanan merupakan bahan pangan yang mudah rusak (Perishable Food) dengan kandungan protein dan kadar airnya yang cukup tinggi. Salah satu ikan yang banyak diminati oleh banyak konsumen adalah ikan tuna (Thunnus sp). Ikan tuna merupakan salah satu jenis ikan pelagis besar yang bernilai ekonomis tinggi yang tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia. Ikan tuna juga merupakan salah satu ikan yang menjadi komoditas ekspor utama pada sektor perikanan setelah komoditas ekspor udang. Sehingga dengan dasar ini perlu penerapan suatu manajemen pemasaran yang baik untuk meningkatkan hasil penjualan dalam suatu perusahaan di bidang perikanan khususnya di perusahaan perikakanan yang ada di PT. Gilontas Indonbesia.
Maksud dari dilaksanakannya Kerja Praktek Akhir (KPA) ini adalah Untuk mempelajari bagaimana tahapan proses Ikan Tuna (Thunnus sp) Beku Bentuk Loin pada perusahaan perikanan di PT. Gilontas Indonesia. Dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan meningkatkan keterampilan tentang tahapan proses pengolahan serta proses manajemen pemasaran Ikan Tuna (Thunnus sp) Beku Bentuk Loin.
Kerja Praktek Akhir (KPA) ini dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2018 sampai dengan 06 Juni 2018 yang bertampat di salah satu perusahaan perikanan pada PT. Gilontas Indonesia, Kota Denpasar, Bali. Metode yang digunakan pada Kerja Praktek Akhir ini adalah metode survey dan magang. Sumber data adalah primer dan sekunder. Teknik pengolahan data adalah editing, tabulating dan analizing. Serta cara memperoleh data dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi.
Tuna loin beku merupakan salah satu hasil penanganan ikan tuna yang diproduksi oleh PT. Gilontas Indonesia sebagai komoditas pemasaran ekspor. Jenis bahan baku yang digunakan dalam proses produksi antara lain yaitu dari bahan baku ikan tuna yellowfin, albacore, bigeye dan bluefin atau menyesuaikan dengan permintaan yang ada dari konsumen (buyer). Tuna loin beku merupakan daging ikan tuna hasil dari proses loining atau pembelahan menjadi empat bagian dari ikan utuh yang kemudian dibekukan hingga mencapai suhu pusat -18 ºC. Tahapan yang dilakukan dalam proses produksi yaitu dimulai dari penerimaan bahan baku, pencucian I, Penimbangan I, Penampungan sementara, Pencucian II, Pemotongan kepala dan ekor, Pemotongan loin, Pembuangan kulit, Pembuangan daging hitam dan perapihan, Penimbangan II, Penyuntikan CO, Pembungkusan sementara, Penyemprotan gas CO, Penimbangan III, Penyimpanan dingin (chiller room), Penimbangan IV, Pemvacuman, Pembekuan ABF, Pendeteksi logam, Packing, Penyimpanan serta proses Stuffing sebelum produk didistribusikan ke tempat tujuan atau konsumen.
PT. Gilontas Indonesia ini mempunyai sistem manajemen pemasaran yang terlaksana di luar dari lingkup internal perusahaan yaitu terletak di kantor pusat yang dimiliki oleh Gilontas Group yang berada di Taiwan. Di kantor pusat inilah yang bertugas untuk memanejemen bagian pemasaran khususnya untuk pemasaran sekala ekspor serta untuk mengendalikan seluruh aspek yang berhubungan dengan pengambilan keputusan akhir untuk proses pemasaran dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Akan tetapi untuk memenuhi kebutuhan pasar dengan sekala lokal PT. Gilontas Indonesia memilih untuk mempercayakan khusus kepada karyawan bagian marketing lokal untuk mencari dan mendistribusikan produk yang dihasilkan perusahaan sesuai dengan tujuan utama pasar yaitu di daerah Bali, namun tidak menutup kemungkinan antara meraka juga saling bekerjasama untuk mencapai target perusahaan yang sudah ditetapkan.
PT. Gilontas Indonesia sendiri dalam hal pemasaran berorientasi pada tujuan untuk pemenuhan kebutuhan pembeli (buyer) bukan pada target penjualan produk yang dihasilkan, sehingga menjual produk bukan merupakan target akhir pemasaran, melainkan bagaimana perusahaan bisa memenuhi kebutuhan yang diinginkan konsumen (buyer) secara berkelanjutan dengan produk yang berkualitas dan terjamin keamanannya (food safety) sehingga kerjasama antara perusahaan dengan pembeli (buyer) itu dapat berlangsung dalam jangka panjang dengan dasar kepercayaan.
Bentuk strategi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan dalam meningkatkan nilai jual suatu produk yang dihasilkan serta untuk memperluas pasar yaitu dengan memberlakukan suatu sistem dalam perusahaan yang memang merupakan sistem untuk menjamin mutu dan keamanan pangan dengan standar yang berlaku secara global untuk internasional yang bisa disebut dengan sistem British Retail Consortium (BRC) dengan sistem ini perusahaan lebih dipercaya dari pihak buyer baik lokal ataupun ekspor untuk memenuhi kebutuhan Global Food Safety Institute (GFSI).
Sistem pemasaran yang digunakan perusahaan dalam proses pendistribusian produk - produk lokal ataupun produk ekspor yang dihasilkan PT. Gilontas Indoensia adalah dengan sistem pemasaran semi langsung. Ini artinya bahwa produk yang dihasilkan perusahaan tidak dipasarkan langsung ke tangan konsumen akhir, melainkan perusahaan menyalurkan produknya ke distributor baik dari distributor perusahaan cabang sendiri ataupun dari pihak luar yang kemudian nantinya akan mendistribusikan kembali ke tangan konsumen akhir.
Kesimpulan yang bisa diambil dari PT. Gilontas Indonesia antara lain bahan baku ikan di perusahaan masih sangat terbatas yang dikarenakan bahan baku bersifat musiman dan harga yang sering berubah - ubah, sehingga mempengaruhi kegiatan produksi serta pemasarannya, belum adanya target produksi maupun target pemasaran dalam perusahaan sehingga kegiatan produksi sampai dengan pemasaran belum bisa didapat secara maksimal, pemasaran produk - produk lokal yang dihasilkan perusahaan masih terbatas yang hanya dilakukan di daerah Bali saja serta belum bisa memanfaatkan kekuatan yang dimiliki oleh perusahaan secara maksimal yaitu finansial keuangan yang sangat mendukung dan standar perusahaan yang memiliki grade tertinggi yang mampu menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan (food seafty) yang sudah sangat baik.
Saran yang bisa diberikan dari hasil kesimpulan di atas yaitu dengan memperbanyak jaringan supplier dalam pemenuhan bahan baku ikan untuk kegiatan produksi hingga pemasarannya, mulai menetapkan target produksi hingga target pemasarannya dalam periode tertentu agar perusahaan bisa melakukan evaluasi pada akhir periodenya serta untuk memaksimalkan tujuan utama perusahaan dalam meraih keuntungan, lebih gencar dalam melakukan pemasaran produk - produk yang dihasilkan ke beberapa daerah selain di Bali saja dengan tujuan untuk memperluas jaringan pemasarannya serta lebih bisa memanfaatkan dan memaksimalkan lagi kemampuan perusahaan dalam menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan yang sudah berstandar internasional untuk kegiatan pemasarannya yang lebih luas dengan nilai jual yang lebih tinggi lagi.







