Pencegahan, identifikasi, penanganan dan pengobatan penyakit parasit pada benih ikan nila (oreochromis niloticus) di Balai Pengembangan Teknologi Budidaya Perikanan Cangkringan, Desa Argomulyo Kec. Cangkringan Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta
Ikan nila hidup diperairan tawar hampir di seluruh Indonesia. Jenis ikan ini sebenarnya bukan ikan asli Indonesia. Kebutuhan ikan untuk pasar dunia sampai tahun 2010 masih kekurangan pasokan sebesar 2 juta ton/tahun menurut data FAO (Food and Agriculture Organization). Kegiatan budidaya ikan merupakan kegiatan yang mempunyai resiko tinggi karena ikan merupakan makhluk bernyawa yang kapan saja bisa mengalami kematian. Jenis penyakit yang menyerang ikan peliharaan atau budidaya dapat berupa penyakit yang disebabkan oleh organisme patogen dan non patogen. Organisme patogen dapat menyebabkan penyakit ikan karena aktivitas organismenya atau senyawa racun yang dihasilkannya. Adapun salah satu jenis penyakit yaitu golongan parasit yang merupakan penyakit yang disebabkan serangan parasit atau protozoa.
Maksud dari pelaksanaan Kerja Praktek Akhir (KPA) ini adalah Mengetahui cara pencegahan, identifikasi, penanganan dan pengobatan penyakit parasit. Memperoleh data – data teknis dan non teknis dalam hal pencegahan, identifikasi, penanganan dan pengobatan penyakit parasit pada ikan. Memperoleh data tentang banyaknya tingkat serangan penyakit yang menginfeksi ikan budidaya. Mengetahui cara budidaya ikan nila secara umum yang ada pada balai pengembangan teknologi budidaya cangkringan. Adapun tujuan dari pelaksanaan Kerja Praktek Akhir (KPA) ini adalah Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang bagaimana pencegahan, identifikasi, penanganan dan pengobatan penyakit parasit pada ikan. Mengikuti segala kegiatan proses budidaya ikan nila pada balai balai pengembangan teknologi budidaya perikanan cangkringan.
Kegiatan Kerja Praktek Akhir dilaksanakan dari tanggal 19 Maret 2018 sampai tanggal 6 Juni 2018 di BPTPB Cangkringan, Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam KPA ini ialah metode survey dan magang. Sumber data meliputi sumber data primer dan sekunder (Subagyo,1991). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi dan wawancara (Narbuko dan Achmadi 2001). Dalam mengolah data yang diperoleh selama pelaksanaan Kerja Praktek Akhir, penulis menggunakan teknik pengolahan editing, tabulating dan analizing (Nazir, 2004).
Pengambilan sampel merupakan langkah yang dilakukan untuk mengambil ikan yang terindikasi terjangkit penyakit parasit kemudian akan berlanjut pada proses diagnosa laboratorium yaitu pemeriksaan secara mikroskopis
Proses pemeriksaan penyakit parasit perlu dilakukan diagnosa terhadap sampel yang akan diperiksa maupun lingkungan budidaya. Dalam budidaya ikan diagnosa terhadap jenis parasit sangatlah penting. Parasit ikan ini secara umum dibedakan menjadi ektoparasit dan endoparasit. Diagnosis terhadap ikan yang terkena parasit sangat penting untuk kesuksesan langkah pengobatan selanjutnya. Tahap diagnosis penyakit parasit meliputi: Penanganan ikan, Deteksi dengan mata telanjang, deteksi penyakit dengan mikroskop cahaya.
Proses Identifikasi parasit umumnya dilakukan secara morfologi dapat dilakukan dengan pengamatan langsung parasit, sehingga dapat digunakan untuk praktek diagnosa. Kegiatan identifikasi yaitu: Alur kegiatan Pemeriksaan, Persiapan alat dan bahan, sterilisasi alat, pemeriksaan parasit dengan metode mikroskopis,
Hasil pemeriksaan secara mikroskopis yang dilakukan selama kerja praktek akhir meliputi: Trichodina, Gyrodactylus, Epistylis, Dactylogyrus, Ichthyophthirius multifiliis.
Hama pada budidaya ikan nila dapat menjadi pembawa atau vektor penyakit parasit pada benih ikan nila, dikarenakan hama – hama budidaya dapat terjangkit oleh penyakit parasit yang ada di dalam air atau media budidaya.
Penanganan benih nila yang dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan yaitu pemindahan sisa ikan sampel yang terinfeksi kedalam happa secara terpisah guna dilakukan perlakuan pengobatan, dalam memindahkan ikan harus benar – benar menggunakan peralatan yang sekali pakai hal ini bertujuan agar tidak ada penularan. Pengobatan yang telah dilakukan selama Kerja Praktek Akhir yaitu menggunakan antiseptik fermentasi batang pisang, perendaman garam dan pemberian vitamin. Pencegahan yang diterapkan untuk tindakan preventif Pengendapan air media budidaya, persiapan wadah budidaya, pemasangan jaring pada inlet, Pencucian happa, pengeringan kolam penebaran.
Dari hasil KPA ini dapat disimpulkan bahwa (1.) Metode pemeriksaan penyakit parasit atau identifikasi dilakukan secara morfologi dan pemeiksaan secara mikroskopis dengan mengamati dibawah mikroskop. (2.) Kegiatan identifikasi dalam menentukan jenis parasit yang menginfeksi yaitu : teknik pengambilan sampel, diagnosa penyakit parasit, persiapan alat pemeriksaan, Identifikasi penyakit parasit, pemeriksaan hama budidaya, pencatatan hasil pemeriksaan. (3.) Penanganan yang dilakukan pemindahan yang terinfeksi kedalam happa secara terpisah guna dilakukan perlakuan pengobatan. Apabila tidak dapat diobati maka ikan yang telah terinfeksi penyakit akan dikubur dan pengobatan antiseptik fermentasi batang pisang, perendaman garam dan pemberian vitamin serta pencegahan penyakit parasit meliputi pengendapan air media, persiapan wadah budidaya, pemasangan jaring pada inlet, Pencucian happa, pengeringan kolam. (4.) Hasil pemeriksaan pada benih ikan nila ditemukan penyakit parasit yang menyerang benih ikan nila di BPTPB Cangkringan meliputi Intensitas penyakit parasit tertinggi secara berturut turut yaitu : Trichodina, Gyrodactylus, Epistylis, Dactylogyrus, Ichthyophthirius multifiliis, sedangkan Prevalensi benih ikan terhadap serangan penyakit parasit selama Kerja Praktek Akhir selalu tinggi atau hampir 100% benih terserang penyakit parasit.
Dari kesimpulan di atas penulis dapat memberikan saran (1.) Tindakan preventif (pencegahan) secara periodic perlu dilakukan ( pemberian Imunostimulan / Vitamin ), (2.) Sanitasi Lingkungan kolam dan didalam kolam perlu dilakukan secara rutin agar kesehatan ikan lebih terjaga. (3.) Penerapan CBIB atau CPIB perlu di tingkatkan lagi sesuai Prosedur yang berlaku. (4.) Ruangan uji penyakit ikan di Laboratorium HPI di BPTPB Cangkringan masih kurang memadai ruangan uji, untuk itu perlu adanya pembagian ruangan tersendiri atau khusus perjenis uji penyakit agar lebih optimal hasilnya.







