Pengendalian penyakit koi herpes virus (khv) pada ikan koi (Cyprinus carpio) di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPAT) Sukabumi Jawa Barat
Ikan koi merupakan komoditas unggulan ikan hias yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga banyak dibudiayakan. Salah satu kunci dari keberhasilan suatu budidaya adalah terbebasnya dari serangan hama dan penyakit ikan. Penyakit ikan yang sering menyerang ikan koi salah satunya adalah Koi Herpes Virus (KHV). Penyakit ini merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh virus herpes pada koi. Penyakitnya sangat ganas dan dapat menyebabkan kematian masal (80 - 95%) dalam kurun waktu satu minggu (Sunarto, 2004). Oleh karena itu tindakan pengendalian penyakit sangat perlu dilakukan untuk menekan adanya serangan penyakit KHV pada budidaya ikan koi.
Maksud dari Kerja Praktek Akhir (KPA) ini adalah mengikuti seluruh kegiatan pengendalian penyakit KHV di BBPBAT Sukabumi mulai dari pencegahan hingga pengobatannya dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan tentang budidaya ikan koi yang bebas dari penyakit KHV melalui kegiatan pengendalian penyakit KHV.
KPA ini telah dilaksanakan pada tanggal 19 Maret – 6 Juni 2018 di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi dengan menggunakan metode survey dan partisipasi langsung.
Diagnosa penyakit dilakukan sebagai langkah awal pengendalian penyakit KHV. Diagnosa dilakukan melalui pengamatan gejala klinis yang berupa insang pucat, pendarahan diseluruh tubuh, sirip gripis, ulcer dan diagnosa laboratoris menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR).
Manajemen kesehatan inang dilakukan untuk mendapatkan kondisi inang yang prima dan bebas dari penyakit. Manajemen kesehatan inang dilakukan dengan vaksinasi DNA anti KHV GP25, pemberian imunostimulan dan pemberian pakan yang berkualitas.
Vaksin DNA anti KHV GP25 merupakan vaksin generasi baru yang diperoleh dengan cara pengkodean DNA plasmid yang bersifat imunogenik pada inang (Aoki dan Hiruno, 2009 dalam Prama, 2011). Pembuatan vaksin DNA dimulai dari peremajaan bakteri E.coli, Kultur massal, pelleting, isolasi plasmid dan pengeringan, uji PCR vaksindan penghitungan dosis. Aplikasi vaksin dilakukan dengan melalui perendaman sebanyak yaitu 0,05 g dalam 5 liter air untuk 50 ekor ikan, vaksin GP 25 - KHV pellet basah 0,5 g dalam 5 liter air untuk 50 ekor dan melalui penyuntikan sebanyak 12,5 µg/ 0,1 ml. Keberhasilan vaksinasi dapat dilihat dari respon peningkatan daya tahan tubuh ikan koi setelah divaksin berdasarkan kadar hematokrit yang mengalami peningkatan sekitar 10 – 15%, total leukosit yang mengalami peningkatan sekitar 3.000 – 5.000 sel/ mm3 , dan indeks fagositosis sebanyak 2 – 3%.
Pemberian imunostimulan dilakukan untuk meningkatkan kekebalan non spesifik pada ikan koi. Imunostimulan yang diberikan berupa vitamin C dengan dosis dosis 250 mg / kg pakan selama ± 5 hari, ragi roti dengan dosis 1% / kg pakan dan meniran dengan dosis 10 – 15 gr / kg pakan.
Pakan yang diberikan berupa pakan alami dan buatan. Pakan alami berasal dari fitoplankton dan zooplankton sedangkan pakan buatan menggunakan pellet dengan kandungan protein 35%, lemak 5%, kadar air 11%, spirulina, dan vitamin C. Pakan yang berkualitas dapat mempengaruhi pertumbuhan, proses metabolisme dan pembentukan sistem kekebalan dalam tubuh ikan koi.
Manajemen lingkungan dilakukan dengan tujuan untuk menjaga media budidaya supaya ikan merasa nyaman pada medianya. Demi meciptakan lingkungan yang baik maka perlu dikakukan persiapan lahan. Perisapan lahan dilakukan dengan tujuan untuk membersihkan hama, penyakit dan kotoran sisa kegiatan budidaya sebelumnya. Dilakukan pengapuran dengan menggunakan kapur dolomit dengan dosis 50 gr/m2 mempertahankan pH tanah dan air serta dapat membunuh bakteri dan parasit. Setelah itu dilakukan pengisian air dari sumur bor setinggi 30 cm dan pemupukan dengan menggunakan pupuk kotoran burung puyuh untuk menumbuhkan plankton.
Manajemen pathogen dilakukan untuk menekan pertumbuhan pathogen pada saat budidaya. Manajemen pathogen dilakukan dengan cara isolasi atau karantuna dengan menaikan suhu pada angka 30 – 32oC dengan anggapan bahwa suhu tersebut bukan merupakan suhu yang kondusif penyakit KHV sehingga penyebarannya dapat ditekan.
Pengobatan dilakukan untuk memulihkan kondisi ikan yang sudah terserang penyakit. Pada prinsipnya penyakit KHV tidak dapat disembuhkan sehingga pengobatan dilakukan hanya untuk mengobati pathogen sekunder yang dapat memperparah penyebaran penyakit KHV. Antibiotik yang digunakan mengandung enrofloxacin dengan dosis 10 – 20 mg/ liter air selama 5 hari. Antibiotik dapat menyembuhkan bakteri dan parasite yang menyerang ikan koi. Kalium Permanganat (PK) diaplikasikan sebagai pengobatan dengan cara perendaman sebanyak 10 – 20 ppm selama 10 menit setiap pagi dan sore selama ± 5 hari. PK dapat membunuh parasit yang ada pada ikan koi. Garam dapat digunakan untuk membunuh parasite khusunya ektoparasit yang ada pada tubuh ikan koi. Garam diberikan melalui perendaman sebanyak 2000 ppm.
KESIMPULAN
1. Pengendalian penyakit KHV dilakukan dengan melakukan diagnosa penyakit, manajemen kesehatan inang, manajemen lingkungan, manajemen pathogen dan pengobatan.
2. Pencegahan penyakit KHV dilakukan dengan menyeimbangkan antara manajemen kesehatan inang (pemberian vaksin, imunostimulan dan pakan berkualitas), manajemen lingkungan (persiapan lahan, pengeringan, pengapuran, pemupukan, pengelolaan sumber air) dan manajemen patoghen (Isolasi atau karantina).
3. Pengobatan penyakit dilakukan dengan pemberian antibiotik, Kalium permanganate (PK) dan garam.
SAR







