Pengendalian Penyakit Viral pada Ikan Nila dan Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) di Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Budidaya Air Payau (UPT PBAP) Bangil Pasuruan Jawa Timur
Penyakit timbul karena adanya interaksi yang kompleks antara inang patogen dan lingkungannya. Penyakit pada ikan/udang menyebabkan kerugian yang sangat besar pada usaha budidaya walaupun teknologi untuk mengurangi dampak penyakit sudah berkembang namun beberapa penyakit pada ikan/udang masih sukar diatasi. (Rantetondok, 2011).
Pencemaran perairan terjadi akibat dari adanya pemasukan bahan organik maupun anorganik, dari substansi lingkungan yang kemudian dapat menimbulkan berbagai macam dampak. Pencemaran pada lingkungan tambak menyebabkan pertumbuhan udang terhambat, penurunan daya tahan terhadap penyakit dan kematian udang. (Kilawati dan Maimunah, 2015)
Maksud dari kegiatan Kerja Praktek Akhir ini yaitu mengikuti seluruh kegiatan Pengendalian penyakit viral pada ikan/udang di Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Budidaya Air Payau (UPT PBAP) Bangil meliputi pencegahan, pengobatan, penerapan biosecurity, monitoring kualitas air, monitoring penyakit dan identifikasi virus dengan menggunakan metode PCR.
Sedangkan Tujuan dari Kegiatan Kerja Praktek Akhir ini yaitu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang cara pengendalian penyakit viral pada ikan/udang.
Kerja Praktek Akhir telah dilaksanakan mulai tanggal 19 Maret – 16 Juni 2018, di UPT PBAP Bnagil Pasuruan. Metode yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan menggunakan metode survei, sedangkan untuk memperoleh pengetahuan menggunakan metode magang. Berdasarkan sumbernya adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi dan wawancara. Pengolahan data melalui editing, tabulating dan analisising. Sedangkan rencana kegiatan yang dilakukan meliputi pengambilan materi umum dan materi khusus dengan jadwal rencana kegiatan dan daftar inventaris data yang sudah direncanakan. (Nazir, 2014) dan (Sugiyono, 2016)
Pengendalian penyakit viral dilakukan pencegahan agar mendapatkan hasil budidaya yang maksimal.
Pencegahan melalui persiapan budidaya meliputi: Persiapan tambak dilakukan dengan pembersihan lahan dan dilakukan pengeringan, penyediaan air di UPT PBAP Bangil menggunakan sumber air berasal dari pasang surut air laut berjarak 50 cm dari dasar disalurkan pada petak tandon untuk dilakukan pengendapan dan treatment menggunakan kaporit 30 ppm, pengisian air dengan ketinggian 60-80 cm dilanjutkan treatment dengan kaporit 30 ppm, pencegahan melalui benur yang SPF, pencegahan dengan pemberian imunostimulan pada pakan udang yaitu: vitamin C 1 gr/kg, intramin-O 5-10 gr/kg, amino liquit 20-60 gr/kg, progol 5 gr/kg, fermentasi super NB 1 liter. Sedangkan pada ikan nila pemberian imunostimulan dengan probiotik super NM dengan dosis 500 ml/1kg pakan. Aplikasi probiotik pada air media yaitu: tetes 3 liter, vitamin C 30 gr, super NB 1500 mL, air medai 100 liter masing-masing dicampur pada blong lalu didiamkan selama 3 hari. Penerapan Biosecurity. Pengelolaan kualitas air dengan penyiponan dan pengapuran saat terjadi hujan. Monitoring kualitas air. Monitoring pertumbuhan, monitoring kesehatan dan identifikasi penyakit virus melalui tahapan, sterilisasi alat, nekropsi, ekstraksi, amplifikasi, elektroforesis dan pembacaan hasil uji. Hasil uji PCR udang terjangkit penyakit EHP (Entrocytozoon Hepatopenaei) pada DOC 67. Penanggulangannya dengan panen total pada size 134/kg.
Hubungan tindakan pencegahan terhadap penyakit yaitu semakin baik suatu tindakan pencegahan maka semakin kecil kemungkinan biota budidaya terserang penyakit. Air bukan hanya media hidup budidaya, tetapi juga media hidup organisme pathogen (penyakit), namun sebagian organisme penyakit juga berada dalam tubuh biota budidaya. Dalam budidaya, sumber air merupakan salah satu faktor paling penting yang menentukan apakah budidaya akan berhasil atau tidak.
Kesimpulan :
1. Pencegahan di UPT PBAP Bangil menggunakan air sumber yang berkualitas baik, menggunakan benih SPF (Spesific Pathogen Free), aplikasi pakan dengan pemberian immunostimulan, aplikasi probiotik, penerapan biosecurity.
2. Untuk mengetahui adanya penyakit di UPT PBAP Bangil melakukan pengontrolan penyakit virus dengan Metode PCR dalam mengidentifikasi dimulai dari sterilisasi alat, nekropsi sampel, ekstraksi, amplifikasi, elektroforesis dan pembacaan hasil uji dengan bantuan kamera digital.
3. Hasil uji PCR pada tambak intensif udang vannamei dinyatakan positif terkena penyakit EHP (Entrocytozoon Hepatopenaei), setelah mengetahui udang tersebut terjangkit langsung dilakukan panen total pada petak budidaya udang vannamei.
Saran :
1. Perlu meningkatkan biosecurity untuk meminimalisir masuknya hama, seperti penerapan pagar di sekeliling petakan
2. Sebaiknya dalam kegiatan treatment air perlu ditingkatkan, karena treatment air yang dilakukan hanya pengendapan dan pemberian kaporit, hal tersebut masih beresiko tinggi penyakit pada udang atau ikan akan muncul pada saat proses budidaya berlangsung.







