Manajemen kualitas air terhadap kesehatan udang di PT Royal Vannamei Kec. Panarukan Kabupaten Situbono Jawa Timur
Udang vannamei (Litopenaeus vannamei) berasal dari Hawai dan kini telah banyak dikembangkan di Taiwan, Cina, Thailand, Vietnam, Indonesia dan hampir diseluruh dunia (Kordi dan Andi, 2007). Udang vannamei masuk ke Indonesia pada tahun 2001. Produksi udang , terutama di Situbondo dan Banyuwangi (Jawa Timur). Budidaya ujicoba sudah dilakukan dan memperoleh hasil yang cukup memuaskan. Setelah melalui serangkaian penelitian, akhirnya pemerintah secara resmi melepas udang vannamei sebagai varietas unggul pada 12 Juli 2001 melalui SK Menteri KP No.41/2001 (Haliman dan Adijaya, 2005).
Penurunan kualitas air sebagai media hidup merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh para pembudidaya terutama pada pemberian pakan yang berlebihan. Semakin tingginya pakan yang diberikan, maka semakin banyak pula kandungan bahan organik dalam pembesaran udang . Pada kondisi yang demikian ini maka pengelolaan kualitas air menjadi suatu cara untuk tetap mempertahankan produksi udang (Ghufron, dkk. 2007).
Apabila telah dilaksanakan pengelolaan kualitas air secara optimal yang didukung dengan adanya sarana dan prasarana pendukung yang memadai maka diharapkan pemeliharaan telah sesuai dengan kisaran hidup udang sehingga pertumbuhan udang akan optimal dan pada akhirnya tercipta produksi yang maksimal (Haliman dan Adiwijaya, 2005).
Suhu air berhubungan dengan nafsu makan dan proses metabolisme udang Bila suatu tambak mempunyai mukroklimat berfluktuasi, secara tidak langsung akan bepengaruh terhadap kualitas air.
Pengukuran kualitas air dapat dilakukan secara visual, yaitu dengan melihat kecerahan warna air dan tinggi air, atau dengan menggunakan alat ukur kualitas air. Monitoring pertumbuhan dan populasi udang pada suatu petakan tambak dapat dilakukan dengan sampling. Biasanya alat yang dipakai adalah jala tebar. Pengambilan contoh sampel udang melalui sampling penjalaan diutamakan untuk mengetahui ABW (Average Body Weight) , ADG (Average Daily Gain), SR (Survival Rate)¬ dan total Biomas (Ariawan dan Poniran, 2004). Menurut WWF Indonesia (2014),
Letak Geografis, CV. Peleyan Royal Vannamei (PRV) terletak di desa Peleyan, Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo Provinsi Jawa Timur. Secara goegrafis CV.Peleyan Royal Vannamei memilki titik koordinat LS 7°40’16” dan BT 113°57’47”.
CV. Peleyan Royal Vannamei memilliki 21 Karyawan yang tterdiri dari 1 Orang manager, 1 orang teknisi, 1 bidang uumum, 1 bagian laboratorium, 1 bagian adminiistrasi, 1 bagian pakan, 1 bagian mekaik, 3 bagian keamanan, 2 bagian dapur dan 11 bagian petugass pakan karyawan tersebut mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing yang telah diatur dan diperintahkan oleh seorang general manager.
Pengaruh Parameter Fisika
Pengaruh Suhu Pada pertumbuhan Udang
Suhu air berhubungan dengan nafsu makan dan proses metabolisme udang Bila suatu tambak mempunyai mukroklimat berfluktuasi, secara tidak langsung akan bepengaruh terhadap kualitas airPengaruh Kecerahan dan Warna Air pada Pertumbuhan
Kecerahan dan warna perairan sangat erat hubungannya, kesemuanya dipengaruhi oleh plankton, mineral, dekomposisi bahan organik dan zat zat lainnya yang terlarut dalam air.
Pengaruh Parameter Kimia
Pengaruh pH (derajat keasaman) pada Pertumbuhan Udang, pH merupakan parameter air untuk mengetahui derajat keasaman. Air tambak memiliki pH ideal antara 7,5-8,5. Jika pH berada di luar kisaran ini, kematian udang dapat terjadi. Umumnya, perubahan pH air dipengaruhi oleh sifat tanahnya. Pada Tambak CV.Royal Vaname dilakukan pengukuran pH setiap hari pada pagi dan sore, pH optimal pada budidaya berkisar antara 7.5-8.5 , dan pada tambak tersebut pH air rata rata antara ± 7,5 – 8,5
Konsumsi oksigen meningkat di pengaruhi oleh perubahan suhu. Di kolam, DO dapat berubah secara dramatis selama periode 24 jam. Sepanjang hari oksigen dihasilkan oleh fotosintesis, proses dimana tanaman hijau mengubah air dan kaebon dioksida dibantu cahaya, menjadi oksigen dan karbohidrat
Kandungan salinitas air terdiri dari garam garam mineral yang bermanfaat. Kalsium berfungsi mempercepat pengerasan kulit udang setelah molting. Kisaran salinitas air untuk budidaya udang vannamei supaya pertumbuhannya optimal yaitu 15-30, Pengukuran salinitas air pada tambak Royal Vanname dilakukan satu kali sehari, pada waktu sore pukul 14.30 WIB, pada siklus tambak yang saya tempati salinatas sitempat tersebut bekisar mulai 23 - 33 ppt
Pengaruh Alkalinitas pada Pertumbuhan Udang
Alkalinitas menggambarkan kandungan bikarbonat-bikarbonat air. Kandungan alkalinitas ini hubungan erat dengan perubahan pH harian atau sering disebut buffer capacity. Makin tinngi alkalinitas, mengakibatkan buffer capacity semakin besar sehingga perbedaan pH harian semakin kecil. Kondisi fluktuasi pH harian sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan udang, meskipun tidak mengekibatkan kematian.
Pengaruh Nitrit pada Pertumbuhan Udang, Pada udang mekanisme toksisitas nitrit tidaksepenuhnya dipahami, karena udang mempunyai pigmen darah (hemocyanin) yang berbeda dibandingkan ikan. Karena nitrit yang tinggi menurunkan toleransi udang terhadap oksigen (Van Wyk dan Scarpa, 1999). Daya racun nitrit yang Tinggi dipengaruhi oleh bentuk persenyawaan nitritnya, yaitu bila terdapat dalam bentuk asam (HNO2) maka akan lebih toksik daripada bentuk ion nitrit.
Pengaruh Amoniak pada Pertumbuhan Udang
Menurut Umroh (2007), amoniak sangat penting dalam budidaya, amoniak dalam bentuk ammonium dapat dimanfaatkan oelh tumbuhan air melalui proses asimilasi dan digunakan sebagai sumber energy oleh mikroorganisme nitrifikasi dalam oksidasi aomnia menjadi NO2, kemudian dilanjutkan manjadi NO3
Pengaruh Plankton Pada Pertumbuhan Udang
Plankton seperti fitoplankton yang menguntungkan mutlak dibutuhakn baik dari segi jenis maupun jumlahnya. Plankton antara lain dapat berfungsi sebagai pakan alami, penyangga (buffer) terhadap intensisrascahaya matahari dan bioindikator kestabilan lingkungan air media pemeliharaan. Pada musim kemarau yang salinitasnya relative tinggi (sekitar >35 ppt), pertunbuhan plankton terhambat seingga sulit dicapai populasi stabil (Haliman dan Adijaya, 2005).
Pengelolaan Pakan, Pemberian pakan yang diberikan yaitu mempunyai nilai Feeding Rate (FR) yaitu 3% dari total biomassa dan pemberian pakan dilakukan secara bertingkat tergantung dari umur udang. Frekuensi pemberian pakan yaitu 4-6 kali sehari yang dimulai pada hari pertama dengan dosis diseusaikan dengan ABW dan populasi udang selama pemeliharaan (Kordi, 2005)
Penambahan Air atau Pergantian Air, Penambahan air dilakukan untuk mempertahankan ketinggian air dalam tambak.Pergantian air dilakukan untuk mempertahankan kualitas air. Penggantian air didahului dengan membuang air sekitar 10 % dari total air tambak, kemudian menambahkan air yang berasal dari tendon . Air yang dimasukkan ke tabak sebaiknya menggunakan selasar (pemecah air), untuk meningkatkan kadar oksigen dan menghindari naiknya bahan beracun dari dasar tambak.
Selama saya praktek pada tambak PRV, saya menemukan dua jenis penyakit yaitu WFD (White Feses Dieses), dan IMNV (Infectious Myo Necrosis Virus) , penyakit kotoran putih (WFD), Cara dan Upaya CV. PRV, dan mencengah penyakit (IMNV) dengan cara menjaga kualitas air yang stabil dari awal budidaya sampai akhir panen.







