Teknik manajemen kualitas air pada pembesaran udang vannamei (Litopenaeus vannamei) teknologi intensif di tambak milik UD. Sumber Barokah desa Delegan Kabupaten Gresik.
Negara Indonesia termasuk Negara maritim dengan luas wilayah laut sekitar 5,8 juta km2.. Lautan yang dimilki Indonesia tersebut menyimpan beragam potensi untuk dikembangkan, di antaranya pengembngan sumber daya perikanan. Dalam hal pengembangan potensi sektor budidaya perikanan, khususnya budidaya udang semua itu tidak terlepas dari penerapan pola budidaya yang dilakukan.
Pola budidaya udang itu sendir dapat dilakukan dengan pola ekstensif yang umumnya dilakukan oleh para petambak tradisional, bahkan sampai pada pola budidaya intensif yang dilakukan leh perusahaan-perusahaan besar seperti yang di lakukan pada UD. Sumber Barokah.
Maksud dari pelaksanaan Praktek Kerja Akhir adalah mengikuti semua kegiatan Manajemen kualitas air pada budidaya air payau di tambak Udang vannamei milik UD. Sumber Barokah desa Delegan Kabupaten Gresik.
Tujuan Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang manajemen kualitas air pada tambak udang vannamei
Mengetahui secara mendalam dan memperoleh data tentang hubungan manajemen kualitas air terhadap pembesaran udang vannamei.
Bagi biota perairan misalnya udang, air sebagai media baik sebagai media internal maupun eksternal. Sebagaimana makhluk hidup lainnya biota air membutuhkan lingkungan yang nyaman agar dapat hidup sehat dan tumbuh optimal. Bila lingkungan tersebut tidak memenuhi syarat, biota air dapat mengalami stres, mudah terserang penyakit yang akhirnya menyebabkan kematian. Untuk itu seorang pembudidaya harus mengetahui parameter kualitas air yang baik, cara pengelolaan kualitas air yang baik dan benar dan karakteristik air yang merupakan tempat hidup udang.
Pola budidaya secara itensif biasanya sudah memiliki kepadatan tebar yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan pola budidaya ekstensif. Biasanya pola budidaya intensif kepadatan tebar mencapai 80-125 ekor/m2 sistem airasi pada tambak pun sudah diterapkan. pemakaian kincir pada pola budidaya seperti ini dilakukan untuk membantu meningkatkan oksigen terlarut di dalam tamabak sehingga udang yang berada dalam tambak tidak mengalami stres yang di akibatkan kepadatan yang tinggi (Erlangga 2012).
UD. Sumber barokah terletak di desa delegan kabupaten gresik, Tambak milik UD. Sumber Barokah berada pada ketinggian 2 - 4 meter dari permukaan air laut. Suhu rata-rata 26oC - 30o C. Jarak Desa Delegan dengan pusat pemerintah Kecamatan Gresik sekitar 25 km dan 7 km dari perbatasan kota Lamongan atau berada pada jalur pantura Gresik – Lamongan. . Hal ini sependapat dengan pernyataan Haliman dan Adijaya (2005), persyaratan tambak vannamei secara teknis yaitu terletak di daerah pantai dengan fluktuasi air pasang dan surut 2 – 3 m.
Persiapan yang di lakukan UD. Sumber Barokah sebelum peebaran persiapa lahan meliputi dari:
1. Persiapan lahan
2. Pembersihan
3. Pengeringan petakan
4. Pengisian air
5. Penumbuhan plankton
Setalah persiapn lahan selesai dilakukan maka dilakukan proses penebaran benur Sebelum ditebar benur perlu di aklimatisasi terlebih dahulu. Aklimatisasi suhu dilakukan dengan cara memasukkan kantong benur yang belum dibuka kedalam petakan dan menyiram – nyiramnya dengan air petakan sampai muncul embun pada kantong yang menandakan bahwa suhu didalam kantong telah sama dengan petakan.
Untuk menjaga kondisi air tambak di lakukan monitoring kualitas air yang di lakukan haria dan mingguan, hal ini di lakukan untuk mengetahui fluktuasi kualitas air tersebut. monitoring harian meliputi pH, Suhu, DO, kecerahan
Pengukuran suhu dilakukan 2 kali sehari pada pagi hari (pukul 07.00 WIB) dan sore hari (pukul 15.00 WIB). Pengukuran suhu menggunakan termometer. Dari hasil pengukuran setiap hari diperoleh data suhu pagi hari 28 - 31 0C dan pada sore hari 30 - 33 0C.hal ini sependapat degan Haliman dan Adijaya (2005), suhu optimal pertumbuhan udang antara 26-320 C.
Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH meter. Teknik pengukuran pH yaitu mengambil air sampel pada bagian badan air dan membawa air sampel petakan menggunakan botol sampel dan setelah itu diukur dengan pH meter. Hasil dari pengukuran pH yaitu pada pagi hari 7,5 – 8,0 dan pada sore hari 8,5 – 8,5. hal tersebut sependapat dengan Adijaya (2005) pH merupakan parameter air untuk mengetahui derajat keasaman. Air tambak memiliki pH ideal antara 7,5-8,5.
Kecerahan air menandakan tingkat kepadatan plankton ataupun suspensi yang dapat dilihat secara visual. Pengukuran kecerahan dilakukan setiap hari pada pukul 07.00 WIBdan pukul 15.00 WIB dengan nilai keceahan 80 – 20 cm. kecerahan berubah sekala berkala semakin pekat sesuai pertumbuhan udang dan plangton.
Pengukuran DO yang baik dilakukan setiap hari. Pengukuran DO di UD. Sumber Barokah menggunakan DO meter. Pengukuran DO di lakukan pada malam hari sekitar pukul 20.00 wib karena pada saat malam hari organisme yang di dalam air memerlukan oksigen untuk respirasi. Pengukuran DO dilakukan saat udang mulai umur 20 hari sampai panen, sebab saat udang berumur 0 - ± 20 DO air telah mencukupi untuk keperluan udang yaitu lebih dari 4 ppm sedangkan udang saat berumur 20 hari sampai panen hari kandungan DO mulai berubah – ubah yaitu antara 3 – 5 ppm.
Pengecekan mingguan meliputi:
1. Alkalinitas
2. Total Bakteri
3. Total vobrio
4. Nitrit
5. Salinitas
Pengukuran salinitas menggunakan refractometer. Pengukuran dilakukan pada pagi hari, hasil dari pengukuran salinitas yaitu 15 – 20 ppt. Hasil ini masih didalam kisaran optimal SNI 01 - 7246 - 2006 (2006) bahwa kisaran salinitas yang baik untuk udang adalah 10 – 35 ppt.
Alkalinitas merupakan sistem penyangga (buffer) pH dalam ekosistem tambak. Pengukuran Alkalinitas dilakukan pada pagi hari dengan cara titrasi. Hasil dari pengukuran alkalinitas petak 1 yaitu 347.3 – 145.1 ppm dengan alkalinitas rata-rata 257.7 ppm. Berdasarkan standar SNI 01 - 7246 - 2006 (2006) bahwa kisaran alkalinitas untuk budidaya udang vannamei adalah 100 – 150 mg/l.
Pengukuran nitrit dilakukan setiap seminggu sekali pada hari senin Pengukuran nitrit yang dilakukan yaitu secara test kit nitrit paling rendah 0 ppm dan paling tinggi 1.904 ppm pada awal budidaya rendah dan naik pada pertengahan budidaya lalu turun sebelum udang di panen. Hal ini disebabkan pada awal budidaya kandungan bahan organik (amoniak) masih rendah. Nilai nitrit yang tinggi dapat mengakibatkan blomming planko dan nitrit yang rendah dapat mengakibatkan pertumbuhan plankton terhambat. Untuk menjaga kestabilan kandungan nitrat dilakukan sipon, pengetapan, pergantian air, dan probiotik.
Pengukuran TAN (total ammonia nitrogen) yang di lakukan pada UD. Sumber Barokah semiggu sekali tepatnya setiap hari senin, Kandungan ammonia dalam tambak berasal dari sisa metabolism hewan air dan dari dekomposisi bahan organic dari bakter, ammonia merupakan senyawa toksik bagi udang. dapat dilihat pada grafik diatas bahwa kenaikan TAN paling tingi pada doc 47 sampai doc 63 pada saat itu nilai TAN 0,068 – 5,524 ppm
TOM pada UD. Sumber Barokah bahwa nilai paling tinggi pada DOC 47 dengan total TOM 234,9 ppm hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pada saat DOC 47 mengalami kenaikan pada bahan organic dalam air maupun petakan, hal ini akan mengalami pegendapan dan terdekomposisi menjadi senyawa yang bersifat racunbagi udang danorganisme lainnya.
monitoring pertumbuhan dilakukan dengan sampling menggunakan jala berukuran 3 m. Kegiatan sampling pada petak 1 dilakukan saat umur udang 41hari, dilakukan setiap 7 hari sekali sampai panen. Hal ini sependapat dengan Amri (2008), yang mengatakan sampling berikutnya dilakukan 7 – 10 hari sekali dari sampling sebelumnya. Sampling bertujuan untuk mengetahui berat rata-rata udang (ABW), pertambahan berat rata - rata harian (ADG) dan estimasi total biomassa.Sehingga dapat mengestimasi jumlah pakan/hari hingga sampling berikutnya.
hama dan penyakit yang menyerang di UD. Sumber Barokah adalah WFD, WFD adalah sebuah penyakit yang menyerang hepatopankreas, usus, dan hemolimp udang, Penyakit ini menyerang pada tambak milik UD.Sumber Barokah pada umur 70 hari, di permukaan kolam terlihat kotoran udang seperti benang putih dan pada umur 80 hari udang di panen total untuk menghindari pengeluaran pakan yang berlebihan karena pada saat udang terkena penyait WFD nafsu makan berkurang. Penyakit WFD ini disebabkan karena banyaknya kelekap pada kolam dan banyaknya vibrio pada usus udang yang menyebabkan terkena WFD. Ciri ciri terserang WFD adalah muncul berak putih seperti benang pada permukaan kolam dan nafsumakan menurun.
Langkah langkah yang di lakukan UD. Sumber barokah saat terkena WFD adalah
1. Penambahan dosis probiotik
2. Pergantian air air dan pembuangan lumpur
3. Pembuangan kelekap yang ada di samping petakan tambak
Dari hasil Kerja Praktek Akhir (KPA) yang telah dilaksanakan di Tambak UD. Sumber Barokah dapat ditarik kesimpulan dan beberapa kekurangan yang bisa dijadikan saran kaitannya dengan pengelolaan kualitas air yang dilakukan di UD. Sumber Barokah.
1. Fasilitas untuk budidaya udang khususnya dalam pengelolaan kualitas air yang dimiliki oleh UD. Sumber Barokah alat alat untuk pengecekan kualitas harian yaitu pH meter dan DO meter.
2. Pengelolaan kualitas air di UD. Sumber Barokah mulai dari persiapan lahan, persiapan air, persiapan benur, monitoring kualitas air harian dan mingguan.
3. Monitoring kualitas air harian meliputi pH, DO, Kecerahan, suhu. pH pada pagi hari mulai dari 7,4 – 8,0ppm pada sore hari 8,0 – 8,6ppm, DO 3,63 – 4,68 ppm, kecerahan 80-20 cm, suhu pagi hari 28 – 31 oC dan pada sore hari 30 – 33 oC.
4. Kesimpulan akhir bahwa pengelolaan kualitas air pada UD. Sumber Barokah sudah cukup baik namun pada DOC 70 gejala wfd, penyakit tersebut muncul sehingga pertumbuhan udang menurun dan nafsu makan rendah sehingga pada DOC 80 UD. Sumber Barokah melakukan pemanenan total.
Untuk mencegah penyakiit atau hewan masuk kedalam petakan sebaiknya UD. Sumbe barokah menerapkan biosecurity. Karena pengolahan kualitas air juga tidak cukup untuk mencegah masuknya penyakit, karena penyakit bisa masuk melalui faktor eksternal, dan perlu adanya penyaringan saat pengisian air dari bak tendon ke dalam bak budidaya hal ini sangat perlu karena untuk mencegah masuknya kotoran yang terbawa saat pengambilan air di tendon sebelum masuk petakan.







