Teknik budidaya ikan koi (Cyprinus carpio) eksotis di Unit Usaha Agung Koi Farm Desa Karanganyar Kecamatan Wates Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur
Nia Maharani. NIT 15.3.02.062. Teknik Budidaya Ikan Koi (cyprinus carpio) Eksotis di Unit Usaha “Agung Koi Farm” di Desa Karang Anyar Kecamatan Wates Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur. Di bawah Bimbingan Bapak Ir. Teguh Harijono, MP selaku Dosen Pembimbing I dan Bapak Ir. Moh. Zainal Arifin, MP selaku Dosen Pembimbing II.
Permintaan ikan koi eksotis yang terus meningkat dan peluang usaha budidaya ikan koi masih luas, maka perlu dipelajari bagaimana upaya Budidaya Ikan koi eksotis, serta upaya pemanfaatan koi sortase agar keseluruhannya dapat dijadikan sebagai lahan usaha.
Tujuan dari Kerja Praktek Akhir ini adalah untuk mempelajari teknik budidaya ikan koi eksotis, mulai dari tahap pengelolaan induk sampai pembesaran ataupun perawatan ikan koi SQ (Show Quality).
Aspek – aspek yang perlu diperhatikan dalam budidaya ikan koi eksotis diantaranya sebagai berikut:
1. Pengelolaan Induk
Kriteria pemilihan calon induk pada unit usaha ”Agung Koi Farm” meliputi umur induk minimal 2 tahun, berat 1 – 4 kg, struktur tulang induk besar, pola dan warna induk bagus dan seimbang dan perpaduan komposisi warna dan motif antara induk jantan dan betina sembang.
2. Pembenihan
a. Persiapan Kolam Pemijahan
Persipan kolam dilakukan dengan cara menyikat dinding kolam, selanjutnya dilakukan perendaman kaporit 6.666 ppm (100 gram kaporit dilarutkan dalam 15 liter air) selama 2x24 jam. Setelah itu kolam pemijahan dibersihkan dari rendaman kaporit kemudian diisi air hingga setinggi 50 cm.
b. Seleksi Induk Siap Pijah
Seleksi induk siap pijah dilakukan pada induk yang alat kelaminnya sudah tampak merah.
c. Proses Pemijahan
Pemijahan dilakukan dengan 2 cara yaitu pemijahan alami dan pemijahan semi alami. Pemijahan semi alami dilakukan dengan cara perangsangan hormon ovaprim apabila ikan yang dipijahkan secara alami enggan memijah maka keesokan harinya dilakukan penyuntikan dengan hormon ovaprim. Selama kegiatan Kerja Praktek Akhir dilakukan pemijahan sebanyak 6 kali pada pemijahan ke 3 dilakukan pemijahan semi alami. Pemijahan 1 (Taisho Sanke >< Kohaku), Pemijahan 2 (Taisho Sanke >< Taisho Sanke), Pemijahan 3 (Showa Sanshoku >< Shiro Utsurimono), Pemijahan 4 (Taisho Sanke >< Taisho Sanke), Pemijahan 5 (Kohaku >< Taisho Sanke), dan Pemijahan 6 (Kujaku >< Shuzui).
d. Penetasan Telur
Penetasan telur terjadi ± 46 jam. Penetasan telur dilakukan di kolam pemijahan sekaligus.Fertilization Rate (Derajat Pembuahan/FR) yang didapat pada Pemijahan 3 (75%), Pemijahan 4 (53%), Pemijahan 5 (88%), Pemijahan 6 (85%). Daya tetas telur (Hatching Rate/HR) yang diperoleh Pemijahan 3 (22%), Pemijahan 4 (89%), Pemijahan 5 (83%), Pemijahan 6 (87%).
e. Pemeliharaan Larva
Pemeliharaan larva dilakukan pada kolam penetasan telur sebelumnya. Pemerian pakan larva diberikan saat larva berumur 3 hari hingga umur 5 hari berupa kuning telur rebus, selanjutnya diberikan pakan cacing sutera hingga umur 14 hari.
Pengelolaan kualitas air kolam pemeliharaan larva dilakukan dengan cara pergantian air sebanyak 50% pada larva berumur 7 hari. Monitoring kualitas air dilakukan secara harian berupa suhu rata – rata (28 ⁰C) pada pagi hari (32⁰C) dan pH rata – rata 7. Monitoring kualitas air mingguan : a) Minggu ke 1 Ammonia (NH3) 0,18 mg/l, Minggu ke 2 0,15 mg/l, b) Minggu ke 1 Nitrit (NO2) 5 mg/l, minggu ke 2 3 mg/l, c) DO (Dissolved Oxygen) minggu ke 1 5 mg/l, minggu ke 2 5 mg/l.
Hama yang ditemukan selama tahap pemeliharaan larva berupa ucrit dan belum ditemukan adanya penyakit pada tahapan tersebut.
Sebelum larva ditebar pada kolam pendederan dilakukan sampling benih diperoleh Pemijahan 1 (40,9%), Pemijahan 2 (67%), Pemijahan 3 (94%), dan Pemijahan 4 (47%).
3. Pendederan
Tahap pendederan terbagi menjadi 3 yaitu Pendederan 1 (14 hari – 30 hari), pendederan 2 (30 hari – 60 hari), dan pendederan 3 (60 hari – 90 hari).
a. Persiapan Media
Pendederan dilakukan pada kolam tanah. Pertama dilakukan pengeringan selama 2 – 3 hari sampai tanah retak retak. Pengisian air berasal dari air sungai sekitar pertama air diisi setinggi 30 cmkemudian dilakukan pemupukan air menggunakan pupuk kandang dengan dosis 100-150 gram/m2.
b. Penebaran benih
Penebaran benih dilakukan saat umur benih sudah mencapai 14 hari pasca telur menetas. Padat tebar pada tahap pendederan aalah 7 – 10 ekor/m2.
c. Pengelolaan Pakan
Pakan yang digunakan dalam tahap pendederan adalah pakan buatan berupa pellet dengan dosis ad libitum dan frekuensi 2 kali sehari.
d. Pengelolaan Kualitas Air
Pada tahapan pendederan ikan koi, pengolaan kualitas air dilakukan dengan membersihan kolam secara rutin seminggu sekali. Pembersihan ini meliputi pembersihan dedaunan, eceng gondok dan lumut mati pada kolam pembesaran. Pada kolam pendederan terdapat fitoplankton berupa chlorella sp. dan euglena sp. sedangkan zooplankton yang teridentifikasi adalah jenis brachionus sp.
Monitoring kualitas air pada tahapan pendederan dilakukan 1 bulan sekali yaitu pH (7,5), DO (±5 mg/l), Ammonia (NH3) : Bulan ke 1 (0 mg/l), Bulan ke 2 (5 mg/l), Nitrat (NO2) : Bulan ke 1 (0 mg/l), Bulan ke 2 (1,5 mg/l).
e. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama: Hama kompetitor (Ikan nila, ikan cetol dll), Hama predator (Katak, ular dll), Hama pengganggu (Keong keongan sawah, yuyu dll). Penyakit : Parasit Lerneae, Dropsy, Aeromonas Hydrophila, Gill Rot (Busuk Insang), Parasit Dactylogyrus, Parasit Myxosporeasis (Myxobolus sp.)
f. Seleksi Ikan Koi
Pada Pemijahan I dari jumlah awal pendederan I (5.364 ekor) diperoleh Koi SQ : 3,1% (20 ekor), Grade A: 4,5% (29 ekor), Grade B: 10% (67 ekor), dan Grade C: 81% (528 ekor). Pada Pemijahan II dari jumlah awal pendederan I (3.349 ekor) diperoleh Koi SQ : 1,9% (11 ekor), Grade A: 6,4% (36 ekor), Grade B: 8% (47 ekor), dan Grade C: 83% (463 ekor).
g. Karantina Ikan Koi
Karantina ikan koi bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit ikan, tempat pengobatan ikan sakit, dan mengurangi stress pada ikan yang baru di tangkap atau akan dikirim. Karantina ikan yang sehat sekitar 5 – 7 hari, sedangkan bagi ikan yang sakit sampai ikan sembuh total.
4. Pembesaran
a. Pembesaran di Kolam Tanah
Ikan koi yang masuk pada tahapan pembesaran adalah ikan koi Grade A berukuran 15 – 20 cm untuk mencapai ukuran lebih dari 30 cm atau ± 6 – 8 bulan pemeliharaan.
Perawatan Ikan Koi SQ (Show Quality)
b. Perawatan ikan koi Show Quality
Perawatan ikan koi Show Quality dipelihara secara terpisah yaitu pada kolam filter dengan sistem resirkulasi. Filter 1 terdapat batu apung,filter ke 2 terdapat batu zeolit, dan filter ke 3 terdapat potongan potongan sedotan yang dibungkus waring.
Pengelolaan Pakan pada perawatan ikan koi SQ menggunakan pemberian pakan khusus untuk ikan hias dengan kandungan protein sebesar 35%. Untuk menjaga bentuk tubuh sekaligus menjaga warna ikan koi terutama ikan yang berdasar putih menggunakan pakan Wheat Germ dan untuk menjaga pola warna ikan koi menggunakan pakan pellet yang mengandung spirulina.
5. Panen dan Pemasaran
a. Panen
Pada akhir seleksi 1,2 dan 3 selalu dilakukan pemanenan. Pada seleksi ke 1 dan ke pemanenan dilakukan untuk ikan yang tidak memenuhi kriteria baik pola warna, bentuk tubuh dll (Sortase/kropyok) langsungdijual / di lelang dengan harga Rp.100 – 200 per ekor, untuk ikan koi hasil seleksi ke 2 dijual / di lelang dengan harga Rp.1.000 – 5.000 per ekor. Ikan koi hasil seleksi ke 1 d. Sedangkan pada seleksi ke 3 dilakukan pemanenan untuk ikan koi Grade B dan C disesuaikan dengan permintaan. Ikan Koi Grade B dijual / di lelang dengan kisaran harga minimal Rp.30.000 – 100.000.
b. Pemasaran
Daerah pemasaran ikan koi hampir mencakup seluruh Indonesia.
Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa teknik budidaya ikan koi eksotis meliputi pengelolaan induk, pembenihan, pendederan, pembesaran hingga perawatan ikan koi SQ (Show Quality). Ikan Koi sortase langsung dipasarkan.
Saran yang dapat penulis sampaikan kepada unit usaha “Agung Koi Farm” Pada tahap pengeringan sebaiknya dilakukan pengapuran untuk penyangga pH tanah dan mematikan seluruh virus dan bakteri yang ada pada tahapan budidaya siklus sebelumnya dapat mati, sehingga resiko terserang penyakit pada siklus berikutnya dapat diminimalisir dan pemasangan CPD (Crab Protecting Device) diperlukan pada setiap sisi kolam dengan tujuan hama tidak bisa keluar masuk kolam budidaya.







