Teknik pembesaran udang vannamei (litopenacus vannamei) secara intensif di PT Pantai Mas Desa Badean Kecamatan Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur
Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas udang yaitu mengintroduksikan varietas unggul atau udang baru yang tahan penyakit. Sehubungan dengan hal tersebut, dilepas varietas baru yaitu udang vanamei yang diyakini bisa meningkatkan gairah pertambakan udang menjadi prospektif kembali (Ghufran dan Kordi, 2007). Udang vannamei (litopenaeus vannamei) merupakan salah satu jenis udang introduksi yang akhir-akhir ini banyak diminati, karena memiliki keunggulan seperti tahan penyakit, pertumbuhannya cepat (masa pemeliharaan 100 – 110 hari), sintasan selama pemeliharaan tinggi dan nilai konversi pakan (FCR-nya) rendah (1 : 1,3) (Jurnal KKP, 2013).
Adapun Maksud dari pelaksanaan Kerja Praktek Akhir (KPA) ini adalah ikut serta dalam kegiatan teknik pembesaran udang vannamei (Litopenaeus vannamei) secara intensif di PT. Pantai Mas Banyuwangi Jawa Timur meliputi persiapan tambak, pemeliharaan hingga panen dan pasca panen. tujuan yang ingin diperoleh pada pelaksanaan Kerja Praktek Akhir (KPA) ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang usaha pembesaran udang vannamei (Litopenaeus vannamei) secara intensif di PT. Pantai Mas Banyuwangi Jawa Timur, dengan memperoleh data tentang teknik budidaya dari persiapan hingga panen, serta analisis teknis pembesaran udang vannamei secara intensif
Kerja Praktek Akhir (KPA) telah dilaksanakan di PT. Pantai Mas Desa Badean Kecamatan Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur yang telah dilaksankan pada tanggal 19 Maret sampai 06 Juni 2018. Metode yang digunakan untuk Kerja Praktek Akhir ini adalah metode survei dan magang.
Kegiatan pembesaran udang vannamei secara intensif di PT. Pantai Mas meliputi :
Penebaran benur dilakukan malam hari. Benur yang ditebar berasal dari Hatchery PT. Daru Laut Banyuwangi dan merupakan benur F1 yang bersertifikat SPF yang telah lulus uji PCR dan uji kesehatan benur. jumlah tebar benur 311.320 untuk luasan tambak 2.825 m2 dengan kepadatan 110,2 ekor/m2. Sebelum benur ditebar dilakukan aklimatisasi suhu ± 15 menit sampai terjadi pengembunan didalam kantong. kemudian benur dilepas secara perlahan-lahan.
Jenis pakan yaitu pakan buatan dengan kandungan protein 30 – 38 %. Program pakan yaitu dengan teknik blind feeding pada awal tebar sampai umur 20 hari sedangkan control anco pada saat umur 21 keatas. Cara pemberian pakan ditebar secara merata dengan menggunakan rakit.
Monitoring pertumbuhan bertujuannya untuk mengetahui pertumbuhan udang, kesehatan udang dan lingkungannya. Sampling pertama dilakukan pada saat umur 42 hari. Sampling dilakukan 1 minggu sekali, dan dilakukan pagi hari.
Hama yang telah ditemukan di PT. Pantai Mas adalah seperti kepiting, ikan-ikan kecil dan udang liar. Hama-hama ini bersifat perusak dan penyaing dalam mengambil CO2 maupun pakan. Pencegahannya dengan cara Aplikasi Bird Scaring Device (BSD) dan memasang waring saat pengisisan air. Penyakit yang menyerang pada saat KPA yaitu White Feses Desease (WFD) penyakit udang yang disebabkan oleh kualitas air yang menurun. serta fluktuasi pH yang tidak stabil antara 0,5- 3.
Panen dilakukan pada umur 92 hari (panen total), waktu pemanenan dilakukan pada pagi hari. Cara panen dengan cara membuang air melalui outlet. Penangkapan dilakukan dengan memasang jaring kondom pada pintu outlet, sehingga udang yang keluar akan tertampung pada jaring. Hasil panen yang diperoleh sebanyak 5.649 kg dengan size 42,4 ekor/kg, serta SR yaitu 76,9%. Pakan yang dihabiskan dalam pemeliharaan 6.513,5 kg dan FCRnya 1,15. Selanjutnya udang dibawa ke tempat sortir, kemudian dilakukan pencucian dan dilakukan sortir untuk memisahkan udang yang fresh, molting dan under size, kemudian udang ditimbang dan yang terakhir disimpan pada box yang berisi es.
Dari hasil KPA ini dapat disimpulkan bahwa dalam pemeliharaan udang vannamei ini sudah dilaksanakan secara maksimal, tetapi terdapat kendala dimana udang vannamei terserang penyakit White Feses Desease (WFD) yang menyebabkan hasil panen menurun serta udang banyak yang keropos.
• Benur yang ditebar berasal dari Hatchery PT. Daru Laut Banyuwangi dan merupakan benur F1 yang bersertifikat SPF yang telah lulus uji PCR dan uji kesehatan benur.
• Manajemen pakan yang sudah baik, dibuktikan dari pakan yang diberikan berkualitas dengan jenis, dosis, frekuensi, dan cara pemberian yang tepatsehingga diperoleh FCR yang rendah yaitu 1,15.
• Pengelolaan kualitas air yang baik, dinbuktikan dengan monitoring parameter kualitas air yang teratur dan perlakuan yang tepat sehiingga kualitass air tetap terjaga dengan baik.
• Pertumbuhan udang vannamei selama budidaya sudah baik, dibuktikan dengan laju pertumbuhan udang yang stabil
• Kegiatan pembesaran udang vannamei dengan luasan 2.825 m2, dengan padat tebar110,2 ekor/m2, diperoleh hasil sebanyak 5.649 kg dengan size 42,4 ekor/kg, serta SR yaitu 76,9%. Pakan yang dihabiskan dalam pemeliharaan 6.513,5 kg dan FCRnya 1,15.
Dari kesimpulan diatas dapat disarankan sebagai berikut :
• Sebaiknya kualitas air diusahakan tetap berada pada batas yang normal. Namun apabila terdapat parameter kualitas air yang berada diluar batas normal harus dilakukan pengelolaan kualitas air dengan baik seperti penebaran bakteri tertentu untuk menguraikan nitrit dan phosphate agar lingkungan perairan kembali aman bagi kesehatan udang.
• Sebaiknya untuk mencegah dan meminimalkan terjadinya pencemaran pada sumber air laut yang akan digunakan, sebaiknya perlu menerapkan pengelolaan limbah cair dari hasil budidaya sebelum limbah tersebut dibuang ke laut.
• Sebaiknya pengendalian penyakit lebih ditingkatkan agar udang yang dipelihara dapat tumbuh dengan baik terutama dalam hal pencegahan penyakit karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan pemberian imunostimulan untuk meningkatkan daya tahan tubuh udang.







