Manajemen usaha Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) secara intensif pada UPT - BAPL, Kec. Bangil, Kab. Pasuruan Jawa Timur Cungkingan Desa Cungkingan, Kec. Banyuwangi, Jawa Timur
BAYU CAHYO WIBISONO. NIT.16.5.02.005. Manajemen Usaha Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Secara Intensif Pada UPT-BAPL Bangil Pasuruan Jawa Timur. Di bawah bimbingan Ibu Ir. Sri Wartini, MMA dan Bapak Hamdani, S.Pi, MMA, selaku Dosen Pembimbing I dan II.
Dampak era globalisasi seperti yang terjadi saat ini telah memunculkan suatu sistem perdagangan bebas (free trade) dimana sistem perdagangannya lebih terbuka antara negara satu dengan negara lainnya. Udang merupakan merupakan salah satu komoditi unggulan Indonesia yang sangat diminati dipasar ekspor dan menghasilkan nilai ekomonis yang sangat tinggi bagi negara.
Maksud dari pelaksanaan Kerja Praktek Akhir (KPA) ini adalah untuk mengikuti semua kegiatan manajemen usaha pembesaran udang vannamei (Litopenaeus vannamei) secara intensif di UPT BAPL Bangil. Tujuan dari KPA ini adalah untuk Untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang teknik pembesaran udang vannamei (Litopenaeus vannamei) pada tambak intensif di UPT BAPL Bangil.
Kerja Praktek Akhir ini dilaksanakan mulai tanggal 4 Maret sampai dengan 24 Mei 2019 bertempat di unit UPT BAPL Bangil, Pasuruan, Provinsi Jawa Timur. Metode KPA yang digunakan adalah metode survey dan magang. Sumber data : data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data : data primer dan data sekunder.
Manusia (man) : Keberadaan manusia pada usaha budidaya udang vannamei yang dilakukan pada UPT-BAPL Bangil sendiri sangatlah berpengaruh demi kelancaran proses produksinya, karena manusia adalah faktor pendukung utama dalam suatu usaha. Sumber daya manusianya sendiri terdiri dari beberapa PNS dan non-PNS. Uang (money) : Sumber dana untuk melaksanakan kegiatan operasional Tahun Anggaran 2018 UPT-BAPL Bangil mendapat dukungan dana dari APBD Provinsi Jawa Timur. Bahan (material) : Adapun penggunaan bahan yang dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan produksi udang vannamei pada UPT-BAPL Bangil sendiri antara lain: sumber air, petakan, benur udang vannamei, pakan, probiotik, dll. Mesin (machine) : Mesin yang digunakan sebagai penunjang untuk proses budidaya udang vannamei terdiri dari: genset, kincir air, pompa air. Metode (method) : Metode yang dilakukan di UPT-BAPL Bangil adalah budidaya udang vannamei secara intensif. Metode ini banyak dilakukan oleh para petambak di Indonesia, selain biaya yang dibutuhkan banyak tetapi keuntungan yang didapat sangat melimpah. Pasar (Market) : Untuk pemasaran UPT-BAPL Bangil sendiri menjual udang hasil produksinya kepada pengepul disekitar balai atau pengepul lokal di pasuruan dan luar kota yang meliputi, Gresik, Lamongan, dan Banyuwangi.
Target Produksi : jumlah tebar 92.500 ekor, survival rate 90%, FCR 1: 1,4 ,1 biomassa 1,5 ton/ petak dan lama pemeliharaan 120 hari. Metode yang digunakan dalam proses budidaya ini adalah budidaya udang vannamei secara intensif. Rencana waktu produksi 120 hari terdiri dari 30 hari waktu persiapan pemeliharaan dan 90 hari kegiatan pemeliharaan. Rencana Biaya Produksi sebesar Rp. 67.481.000/petak/siklus produksi, dari persiapan hingga panen.
Pengelolaan suatu usaha untuk mencapai hasil yang maksimal perlu adanya suatu struktur organisasi yang dapat mengatur tugas disetiap bagian produksi sehingga dapat berjalan dengan baik dan sesuai target produksi. Kegiatan pada pembesaran ini dilakukan oleh semua anggota Seksi Produksi yang terdiri dari: Kepala Seksi Produksi merencanakan, mengkaji, dan menyusun laporan evaluasi kegiatan produksi yang biasanya dilakukan sebelum melakukan kegiatan produksi tersebut. Koordinator Lapangan, mengkoordinasi bawahannya dalam semua kegiatan yang ada di tambak. Administrasi, mempunyai tugas yang berkaitan dengan anggaran, pengelolaan administrasi keuangan, mencatat dan melaporkan masalah keuangan dari pengeluaran hingga penerimaan yang ada di bagian produksi. Staff menjalankan semua kegiatan yang ada dilapangan yang telah diperintahkan oleh kepala seksi produksi melalui koordinator lapangan.
Persiapan lahan dilakukan setelah proses produksi siklus sebelumnya telah dilaksanakan, sebelum memulai pembersihan perlu mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk mempermudah kegiatan tersebut. Persiapan lahan terdiri dari pembersihan, pengeringan, dan perbaikan petakan, pengisian air, dan sterilisasi air. Kegiatan ini dilakukan oleh semua karyawan yang berada di tambak dan diawasi oleh kepala seksi produksi
Penebaran benur dilakukan setelah proses persiapan lahan telah dilaksanakan, pemilihan kualitas benur sangat dibutuhkan agar kualitas udang yang dihasilkan bagus. Pada penebaran benur terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi suhu dan aklimatisasi salinitas yang dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 05.00. Kegiatan ini dilakukan oleh karyawan dan diawasi oleh koordinator lapangan.
Pengelolaan pakan diberikan setelah udang DOC dua, jenis pakan yang digunakan adalah pakan pellet, jumlah pakan yang diberikan sesuai dengan program pakan yang telah ditentukan oleh kepala seksi produksi, pakan diberikan sehari empat kali dengan cara ditebar mengelilingi petakan menggunakan alat pelontar yang terbuat dari botol bekas. Pakan diberikan oleh seorang karyawan yang bertanggungjawab terhadap petakan tersebut dan diawasi oleh koordinator lapangan.
Manajemen kualitas air dilakukan oleh laboran pada saat saat persiapan air untuk penebaran saja. Adapun pengecekan yang dilakukan adalah suhu, DO, salinitas, pH. Pengecekan kualitas air diawasi oleh koordinator lapangan.
Monitoring pertumbuhan dilakukan dengan cara sampling udang yang diambil dari anco sekitar 10 ekor selanjutnya ditimbang dan diukur panjang tubuh udang tersebut. Kegiatan ini dilakukan oleh penanggung jawab tambak dan laboran dan diawasi oleh teknisi dan kepala bagian laboratorium.
Panen dilakukan pada pagi hari dengan cara mengurangi ketinggian air menggunakan pompa alkon yang berukuran 2 dim dan pompa celup yang berukuran 6 dim dan udang ditangkap dengan jala yang ditebar disetiap sudutnya. Panen ini dilakukan oleh tenaga borong dan diawasi oleh penanggung jawab petakan. Setelah panen udang diangkut ketempat penyortiran, penyortiran dilakukan oleh pihak pengepul untuk memisahkan udang yang tidak masuk dalam kriteria penjualan seperti, tubuh udang keropos, lembek, dan tidak masuk dalam ukuran yang ditentukan. Selanjutnya udang dimasukkan kedalam keranjang plastik, penimbangan dan dimasukkan kedalam pick up yang telah dilengkapi dengan box fiber yang telah berisi air dan es curai.
Analisa Usaha biaya investasi Rp 67.481.000, biaya tetap Rp 11.170.398, biaya tidak tetap Rp 39.582.500, total biaya Rp 51.307.021. Penerimaan, Jumlah produksi 92.500 ekor , SR 104%, DOC 105 hari, Jumlah Penerimaan 1.797,55 ton, Rp 97.224.745, Keuntungan Rp 45.917.723, Ratio Biaya dan Pendapatan (R/C) R/C = 1,89, Artinya: Pada siklus pertama di UPT-BAPL Bangil Unit Raci mengalami keuntungan dan layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan, BEP RUPIAH = Rp 18.932.877/Kg, BEP UNIT = 329.704 Kg/siklus.
Kesimpulan dari hasil Kerja Praktek Akhir yang dilakukan di Tambak UPT-BAPL Bangil, penulis dapat mengambil kesimpulan antara lain. Proses pembesaran meliputi persiapan lahan, penebaran benur, pengelolaan pakan, monitoring pertumbuhan, pengendalian hama dan penyakit, panen dan pasca panen. Total produksi dengan luas petakan 750m2 yaitu jumlah tebar 92.500 ekor, survival rate 104%, FCR 1:1,17 , biomasa 1,7 ton/ petak dan lama pemeliharaan 105 hari. Sedangkan pada saat panen dilakukan semua hasil sesuai dengan target yang telah ditetapkan, tanpa ada masalah apapun, dalam hal ini penyakit yang menyerang. Hasil perhitungan analisa usaha selama satu siklus diperoleh Total Biaya sebanyak Rp 49.376.716, Pendapatan sebesara Rp 45.917.723 dan R/C Ratio sebesar 1,89, Artinya: Pada siklus pertama di UPT-BAPL Bangil Unit Raci mengalami keuntungan dan layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan. Dengan Payback Period 1,4 siklus (2 siklus) artinya modal usaha akan kembali dalam 1,4 siklus atau 2 siklus.
Dari kesimpulan diatas penulis memberikan beberapa saran agar menjadikan budidaya udang vannamei kedepannya menjadi lebih baik. Adapun saran yang dapat diberikan antara lain. Monitoring kualitas air seharusnya dilakukan tiap minggu agar mudah untuk memonitori kondisi kesehatan udang vannamei dan mengetahui kualitas air yang terbaru. Penambahan tenaga kerja dibutuhkan untuk menunjang kegiatan teknis seperti mekanik dan non teknis seperti bagian administrasi. Pengembangan usaha juga harus didukung dengan sarana prasarana yang layak dan lengkap. Pemeliharaan karyawan dalam hal ini gaji perlu diperhatikan (menyetarakan gaji yang diberikan dengan tenaga yang dikerjakan) untuk meningkatkan pendapatan dan pemasukan UPT-BAPL Bangil.
Kata Kunci: Udang Vannamei, Pembesaran, Analisa Usaha, Intensif, Unsur-unsur Manajemen, Fungsi Manajemen.







