Manajemen sumber daya manusia pada usaha Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) secara intensif di CV. Muara Mas Unit Cungkingan Desa Cungkingan, Kec. Banyuwangi, Jawa Timur
Menurut Haliman dan Adijaya (2005), Udang vannamei masuk ke Indonesia sejak tahun 1999, dan mulai ramai dibudidayakan secara meluas pada tahun 2001. Ravianto, (1986), dalam suatu sistem operasi perusahaan, potensi sumber daya manusia pada hakekatnya merupakan salah satu modal dan memegang suatu peran yang paling penting dalam mencapai tujuan perusahaan Oleh karena itu perusahaan perlu mengelola sumber daya manusia sebaik mungkin.
Maksud dari Kerja Praktek Akhir (KPA) adalah untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembesaran udang vannamei dan memperlajari manajemen sumber daya manusia serta memperoleh data primer dan sekunder pada usaha pembesaran udang vannamei di CV. Muara Mas. Adapun tujuan Kerja Praktek Akhir (KPA) adalah untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia pada unit pembesaran udang vannamei CV. Muara Mas Banyuwangi.
Kerja Praktek Akhir telah dilaksanakan mulai tanggal 4 Maret sampai dengan 24 Mei 2019 bertempat di unit tambak udang vannamei intensif CV. Muara Mas, Cungkingan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.
CV. Muara Mas Unit Cungkingan menerapkan sistem budidaya intensif dengan padat tebar 100ekor/m2. Keseluruhan konstruksi tambak berupa beton. Petakan pembesaran berbentuk persegi dengan ukuran (2.608 m² - 5.867 m²) berjumlah 16 petak dilengkapi inlet, outlet dan central drain pada bagian tengah.
Persiapan lahan budidaya menggunakan 6 tahapan, antara lain : 1. Pengeringan dasar petakan, 2. Perbaikan kontruksi, 3. Pengisian air, 4. Pemberantasan hama dan penyakit, 5. Penumbuhan plankton, 6. Pemasangan kincir.
Benur yang digunakan yaitu benur dari PT. Suma Situbondo dan PT. STP Negara. Proses penebaran benur udang vannamei dilakukan pada pagi hari saat suhu masih rendah, sebelum benur ditebar pada petakan dilakukan proses aklimatisasi.
Jenis pakan yang digunakan dalam budidaya udang vannamei di CV. Muara Mas adalah jenis crumble dan pelet yang diproduksi oleh PT. Suri Tani Pemuka. Pemberian pakan dilakukan dengan menggunakan rakit buatan yang diatasnya terdapat ember untuk wadah pakan yang siap ditebar. Penebaran pakan dilakukan dengan memutar searah jarum jam.
CV. Muara Mas Unit Cungkingan ini monitoring parameter kualitas air dilakukan setiap hari dan setiap minggu. Jika parameter kualitas air harian yaitu mengukur Ph, Suhu, Kecerahan, Tinggi Air, Warna Air. Sedangkan Parameter kualitas air mingguan mengukur nilai TOM, NH3, NO2, NO3, PO4.
Selama proses pembesaran ditemukan hama ular, kepiting dan lumut, serta ditemukan beberapa jenis penyakit muncul karena faktor alam dan kurangnya pengelolaan air yang baik. Penyakit yang menyerang udang di CV. Muara Mas Unit Cungkingan yaitu : IMNV (Infection Myonecrosis Virus) dan White Feces Disease (WFD).
Pemanenan yang dilakukan hanya panen total, dengan cara mengeringkan air hingga kedasar kolam dengan membuka pintu pengeluaran (outlet). Setelah udang terkumpul akan mengalami penyortiran lalu udang akan di packing dalam box yang sudah diisi es. Udang disusun secara berlapis dengan es.
Manajemen Sumber Daya Manusia menerapkan Fungsi Manajemen, antara lain : Perencanaan SDM, Pengorganisasian SDM, Pelaksanaan SDM, dan Pengawasan SDM.
Proses analisis jabatan yang menerapkan 5 dasar untuk menempatkan karyawan sesuai dengan kemampuan, sehingga mampu bekerja sesuai skill pada bidangnya, antara lain : 1. Pengumpulan latar belakang informasi, 2. Pemilihan kedudukan, 3. Pengumpulan data analisis jabatan, 4. Pengembangan deskripsi jabatan, 5. Pengembangan spesifikasi.
Proses rekrutmen dilakukan jika ada kekosongan jabatan dengan cara owner melakukan pertemuan pada karyawan dan memberi pemberitahuan kepada karyawan yang diharapkan karyawan mampu mencari orang baru untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut. Rekrutmen pada CV. Muara Mas Unit Cungkingan menerapkan metode terbuka dan metode tertutup.
CV. Muara Mas unit Cungkingan menerapkan 3 metode dalam proses pelatihan dan pengembangan karyawan, yaitu : 1. Metode arahan instruktur, 2. Metode on the job training, 3. Metode magang.
Unsur-unsur yang digunakan CV. Muara Mas Unit Cungkingan dalam penilaian kinerja karyawan adalah : Prestasi kerja, tanggung jawab, kejujuran, kerjasama, kepemimpinan, pengetahuan kerja, kekuatan fisik, koordinasi, hasrat untuk berhasil, kehadiran, pelaksanaan tugas pokok, ketaatan, loyalitas, dan pengambilan keputusan.
Pembagian kompensasi karyawan ada 2 jenis, kompensasi pokok dan kompensasi bonus. Kompensasi pokok diberikan setiap bulan dan kompensasi bonus diberikan persiklus.
Metode yang dilaksanakan oleh CV. Muara Mas Unit Cungkingan dalam melakukan pemeliharaan karyawan adalah metode komunikasi, metode insentif, dan metode kesejahteraan.
Pemutusan hubungan kerja yang telah terjadi pada CV. Muara Mas Unit Cungkingan, antara lain : pemberhentian atas permintaan sendiri dari karyawan dan pemberhentian permintaan perusahaan.
Kesimpulan :
1. CV. Muara Mas Unit Cungkingan menerapkan sistem budidaya intensif dengan padat tebar 100ekor/m2. Keseluruhan konstruksi tambak berupa beton. Ini dibuat untuk mempermudah dan mempercepat pada saat persiapan budidaya. Konstruksi beton lebih mudah dalam persiapan budidaya dibandingkan dengan tanah atau pasir, petakan pembesaran berbentuk persegi dengan ukuran (2.608 m² - 5.867 m²) berjumlah 16 petak dilengkapi inlet, outlet dan central drain pada bagian tengah.
2. CV. Muara Mas unit Cungkingan menerapkan 3 metode dalam proses pelatihan dan pengembangan karyawan, yaitu : 1. Metode arahan instruktur, 2. Metode on the job training, 3. Metode magang.
3. Metode yang dilaksanakan oleh CV. Muara Mas Unit Cungkingan dalam melakukan pemeliharaan karyawan adalah metode komunikasi, metode insentif, dan metode kesejahteraan.
4. Pemutusan hubungan kerja yang telah terjadi pada CV. Muara Mas Unit Cungkingan, antara lain : pemberhentian atas permintaan sendiri dari karyawan dan pemberhentian permintaan perusahaan.
Saran :
1. Perlu adanya pemasangan biosecurity seperti pemasangan jaring memutar disetiap tepi petakan.
2. Proses pelatihan dan pengembangan karyawan yang seharusnya ditambahkan metode pemodelan perilaku, metode peran, metode permainan bisnis, metode in basket training, metode on the job training, metode rotasi pekerjaan, metode pelatihan pemula.
3. Pemeliharaan karyawan pada bagian kesejahteraan karyawan yang seharusnya diadakan metode keselamatan dan kesehatan kerja serta metode hubungan industri.
4. Pemutusan hubungan kerja seharusnya ditambahkan dan direncanakan tentang apa yang harus dilakukan apabila terjadi karyawan yang pensiun, dan pemberhentian karyawan sementara.







