Respon Imun Ikan Lele (Clarias sp) dn Ikan Gurami (Osphronemus gourmy) yang diberi Imunostimulan berupa pakan mengandung kromun-ragi di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi Jawa Barat
Rendahnya tingkat kelangsungan hidup ikan ini disebabkan oleh karena ikan ini mudah mengalami stress sehingga menyebabkan sistem imun menurun. Salah satu upaya untuk meningkatkan respon imunitas adalah penggunaan immunostimulan selain vaksinasi. Imunostimulan merupakan suatu senyawa biologi dan sintetis atau bahan lainnya yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh non spesifik (Santika, 2007). Kromium ragi (Cr3+) mampu berperan meningkatkan respon imunitas berupa peningkatan aktivitas sel-sel fagositosit. Aplikasi kromium-ragi (Cr3+) dalam pakan baru-baru ini efektif juga diterapkan sebagai imunostimulan pada ikan gurame (Hastuti, 2004 dalam Santika, 2007).
Tujuan dari pelaksanaan Kerja Praktek Akhir (KPA) ini yaitu untuk mengikuti seluruh kegiatan Kerja Praktek Akhir mengenai imunostimulan berupa pakan yang mengandung Kromium-Ragi yang diaplikasikan pada ikan lele dan gurami.
Manfaat dari pelaksanaan Kerja Praktek Akhir (KPA) adalah dapat menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan dalam pembuatan imunostimulan, pengaplikasian serta mengetahui respon imun ikan lele dan gurami terhadap imunostimulan berupa pakan yang mengandung Kromium-Ragi.
Kerja Praktek Akhir ini telah dilaksanakan pada tanggal 4 Maret 2019 sampai dengan 24 Mei 2019 di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi Provinsi Jawa Barat.
Metode pelaksanaan yang digunakan adalah metode deskriptif dan magang, salah satu jenis metode deskriptif adalah survey. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer berupa data yang didapat dari observasi yang dilakukan penulis terhadap objek yang diteliti dan data sekunder dari buku, literatur, keadaan umum, asal ikan gurami, jenis pakan yang digunakan dan lain-lain, yang berkaitan dengan pengamatan ikan lele dan ikan gurami yang diberi pakan kromium-ragi.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi meliputi data dosis Cr3+, ukuran ikan gurami dan ikan lele, serta respon imun yang dilihat melalui gambaran darah meliputi persentase hematokrit, total leukosit, diferensial leukosit dan indeks fagositosis dari ikan lele dan ikan gurami yang diberi pakan mengandung kromium-ragi dan tidak mengandung kromium-ragi, interview berupa wawancara yang dilakukan berdasarkan daftar kuisioner yang telah dibuat dan dokumentasi berupa foto dan rekaman video selama kegiatan KPA (Sugiyono, 2014).
Prosedur kerja dalam KPA yaitu melalui tahapan persiapan alat dan bahan, proses pembuatan imunostimulan yang diawali pembuatan serbuk kromium-ragi, serbuk bawang putih hingga pencampuran imunostimulan dengan pakan pelet, proses aplikasi pakan kromium-ragi, uji tantang ikan lele dengan bakteri Aeromonas hydrophila, pengamatan respon imun ikan melalui analisa hematologi dengan tahapan awal adalah teknik pengambilan darah setelah itu pengamatan gambaran darah. Parameter gambaran darah meliputi persentase hematokrit, total leukosit, diferensial leukosit dan indeks fagositosis.
Respon ikan lele ditunjukkan dari analisa hematologis seperti; kadar hematokrit, jumlah leukosit, limfosit, monosit, neutrofil dan persentase indeks fagositosis meningkat selama masa pemberian, menurun pada awal uji tantang dan meningkat kembali tiga hari pasca uji tantang.
Respon ikan gurami ditunjukkan dari analisa hematologis meliputi kadar hematokrit, jumlah leukosit dan persentase indeks fagositosis yang meningkat selama pemberian imunostimulan dan menurun setelah terinfeksi Mycobacterium fortuitum secara mendadak.
Imunostimulan kromium-ragi dan bawang putih lebih berpengaruh terhadap ikan lele ditunjukkan dari tingkat kelangsungan hidup dari ikan lebih tinggi dibandingkan dengan ikan yang diberi kromium-ragi saja dan yang tidak diberi imunostimulan. Pada ikan gurami ada 2 perlakuan dan dari perlakuan tersebut imunostimulan kromium-ragi lebih berpengaruh dibandingkan dengan yang tidak diberi imunsotimulan ditunjukkan dari grafik yang meningkat pada analisa hematologis setelah pemberian imunostimulan







