<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="6391">
<titleInfo>
<title>Manajemen Plankton Untuk menciptakan kualitas air yang baik pada Budidaya udang vannamei (Ltopenaeus vannamei) di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara</title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Cahya Yudi Aviyanto</namePart>
<role><roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
<genre authority="marcgt">bibliography</genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text">Sidoarjo</placeTerm></place>
<publisher>Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo</publisher>
<dateIssued>2019</dateIssued>
<issuance>monographic</issuance>
<edition></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code">id</languageTerm>
<languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd">CD-ROM</form>
<extent></extent>
</physicalDescription>
<note>Udang vanamei atau biasa disebut udang vannamei (Litopenaeus vannamei) merupakan udang introduksi. Habitat asli udang ini adalah di perairan pantai dan laut Amerika Latin seperti Meksiko, Nikaragua, dan Puertorico. Udang ini kemudian diimpor oleh negara-negara pembudidaya di Asia seperti China, India, Thailand, Bangladesh, Vietnam, dan Malaysia. Dalam perkembangannya, Indonesia juga memasukan udang vannamei sebagai salah satu jenis udang budidaya tambak, selain udang windu (Penaeus monodon) dan udang putih/udang jrebung (Penaeus merguiensis) yang sudah terkenal lebih dahulu (Amri dan Kanna, 2008).

Manfaat plankton pada pengelolaan tambak udang intensif yaitu saat kekeruhan karena plankton dengan kecerahan perairan antara 30 – 40 cm justru diperlukan dan pertumbuhan plankton yang baik ditandai oleh berubahnya warna air tambak dari coklat muda hingga hijau daun muda, mutlak dipertahankan karena plankton membuat tambak menjadi teduh, sehingga udang dapat lebih aktif mencari makan di siang hari, plankton nabati merupakan produsen O2 dalam air, bermanfaat sebagai pakan alami udang khususnya pada awal pemeliharaan setelah penebaran benur, menekan pertumbuhan klekap dan lumut di dasar tambak, dan plankton nabati membantu menyerap senyawa yang sangat berbahaya bagi udang seperti ammonia, nitrit dan nitrat.

Maksud dari kegiatan Kerja Praktek Akhir ini adalah untuk mempelajari, dan ikut serta dalam pelaksanaan Manajemen Plankton Untuk Menciptakan Kualitas Air pada Budidaya Udang Vanname di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara dan memiliki tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan plankton dengan hubungannya pada kualitas air pada pembesaran udang vanname serta cara perhitungannya. Kegiatan Kerja Praktek Akhir dilaksanakan pada tanggal 4 Maret sampai dengan 24 Mei 2019 di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara

Pengambilan sampel air dilakukan sebanyak 1 minggu sekali pada setiap hari selasa. Peralatan yang digunakan ketika mengambil sampel adalah botol sampel yang memiliki volume 155 ml. cara yang dilakukan adalah dengan mengikat botol sampel ada jarring plankton dengan ukurna mesh size kurang lebih 30 – 50 mikro meter lalu di tuangkan air sebanyak 10 liter lalu di diamkan hingga plankton yang terdapat pada jarring jarring plankton net jatuh ke dasar botol penampung. Sampel air yang didapat kemudian di berikan formalin 4% sebanyak 4 tetes, setelah itu plankton diidentifikasi jenis dan spesies lalu di hitung kelimpahan dan keragaman plankton yang terdapat pada tambak budidaya udang vanname

Pengamatan secara kuantitatif dilakukan dengan bantuan alat haemocytometer dan sedgwick. Haemocytometer adalah alat yang digunakan untuk menghitung sel darah pada mikroskop. Heamocytometer yang digunakan untuk perhitungan plankton adalah kotak berukuran 1/256 mm2, kedalaman 0,1 mm. Jadi, volumenya 0,1 mm3. Kotak tersebut dibatasi garis rangkap yang berisi 256 kotak kecil yang letaknya di tengah dan perhitungan yang digunakan adalah PxVxN, Sedangkan Sedgwick sendiri terdiri dari 50 kotak panjang dengan ukuran 50mm dan lebar 20 kotak dengan ukuran 20mm dan memiliki tinggi 1mm Sedgwick dapat menampung volume air 1ml dengan pada bagian atas Sedgwick ditutup dengan menggunakan slide glass atau gelas objek. Pengamatan dilakukan dengan




v
 

menggunakan mikroskop dengan perbesaran 40x sampai 100x dengan 10 titik pengamatan pada Sedgwick

 

	6000		Tambak A 51				
									
	5000								
(Sel/l)	4000								
	3000								
									
	2000								
	1000								
	0	II	III	IV	V	VI	VII	VIII	IX
	I								

					Minggu ke -			
										
	1 Green Alga	211	569	1079	1976	1079	1565	1758	3579	2306
										
										
										
	2 Blue Green Alga	0	0	0	121	226	1798	3415	5611	0
										
										
										
	3 Diatom	15	17	17	22	24	46	56	153	23
										
										
										
	4 Euglenophyta	0	0	1	0	2	0	0	0	15
										
										
										
	5 zooplankton	0	0	0	0	0	0	0	19	16
										
										
										

 


				4500												
							Tambak A 52					
				4000								
																
				3500												
																
			(sel/l)	3000												
																
				2500												
																
				2000												
																
				1500												
				1000												
																
				500												
				0												
						I	II	III	IV	V	VI	VII	VIII	IX
														
										Minggu ke -				
								
			1 Green Alga	111	597	479	1409	967	773	1653	2954	1880
												
												
												
			2 Blue Green Alga	0	0	74	271	1896	2243	3822	2670	545
												
												
													
			3 Diatom		3	0	0	1	3	1	0	161	196
													
													
												
			4 Euglenophyta	4	4	7	7	12	19	27	69	40
												
												
												
			5 zooplankton	0	0	0	0	0	1	0	5	5
												
												
																

 





(sel/l)
 


3000	Tambak A 61					8000	Tambak A 62					
																	
2500									7000								
2000								(Sel/l)	6000								
									5000								
																	
									3000								
1500									4000								
1000									2000								
																	
500									1000								
0									0	II	III	IV	V	VI	VII	VIII	IX
	II	III	IV	V	VI	VII	VIII	IX	I								
I																	

						Minggu ke -											Minggu ke -			
																						
															1 Green Alga	96	344	465	1690	920	1790	3008	5576	6928
		1 Green Alga	335	109	371	497	1790	778	1872	1322	2628													
															2 Blue Green Alga	0	0	122	323	444	243	547	167	4
		2 Blue Green Alga	0	0	17	77	180	434	560	1132	635													
															3 Diatom	43	31	53	14	11	50	160	182	134
		3 Diatom	8	8	30	64	30	89	137	199	168													
															4 Euglenophyta	5	3	3	2	7	11	12	10	9
		4 Euglenophyta	0	1	1	3	8	13	16	8	21													
															5 zooplankton	0	0	1	1	0	1	0	22	23
		5 zooplankton	0	0	1	0	5	9	0	22	4													
																								


Jenis Plankton yang ditemukan pada petak A 51, A 52, A 61, A 62 selama KPA adalah genus- genus dari golongan Green algae, Blue Green Algae dan Diatom. Selain itu, ditemukan pula golongan, Euglenophyta dan Zooplankton. Secara garis besar plankton yang ditemukan dalam kelimpahan yang relatif tinggi dalam perairan adalah golongan Blue Green Algae dan Green Algae Menurut Qiptiyah, dkk (2008) Jenis-jenis plankton yang mempunyai kelimpahan relatif tinggi merupakan jenis-jenis yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya lebih efisien daripada jenis lain dalam tingkat trofik yang sama
 









vi
 

	40,000,000				Kelimpahan Plankton
																							
	35,000,000																						
																							
	30,000,000																						Tambak A 51
																							
(sel/l)	25,000,000																						
																							
																							
																							Tambak A 52
																							
	20,000,000																						
																							
																							
																							Tambak A 61
	15,000,000																						
																							
																							
																							Tambak A 62
	10,000,000																						
																							
																							
																							
	5,000,000																						
																							
	0																						
			III   III   IV   V   VI   VII  VIII   IX
			
									Minggu Ke -


Kelimpahan plankton yang berada pada petak A di BBPBAP Jepara secara garis besar dihasilkan oleh fitoplankton. Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa parameter lingkungan diantaranya, suhu, DO, pH dan karakteristik fisiologisnya. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton akan berubah pada berbagai tingkatan sebagai respons terhadap perubahan-perubahan kondisi lingkungan baik fisik, kimia, maupun biologi. Faktor penunjang pertumbuhan fitoplankton sangat kompleks dan saling berinteraksi antara faktor fisika-kimia perairan seperti intensitas cahaya, oksigen terlarut, stratifikasi suhu, dan ketersediaan unsur hara nitrogen dan fosfor, sedangkan aspek biologi adalah adanya aktivitas pemangsaan oleh hewan, mortalitas alami,

Hal ini juga menjadikan warna air menjadi hijau tua atau hijau pekat. Untuk kepentingan budidaya warna air ini tidak menguntungkan. Oleh karena itu sebaiknya dilakukan pergantian air untuk menghindari terjadinya blooming BGA (kematian masal BGA) yang akan menyebabkan DO turun dan timbulnya bau lumpur pada udang. Dampak dari terjadinya ledakan pertumbuhan Blue Green Algae pada tambak A 51 dan A 52 adalah banyak udang udang yang berenang di permukaan dan ada beberapa udang yang mati, dampak lain yang ditimbulkan adalah dapat mengurangi nafsu makan pada udang tersebut.</note>
<subject authority=""><topic>Local Content</topic></subject>
<subject authority=""><topic>KIPA</topic></subject>
<subject authority=""><topic>Prodi TPPI</topic></subject>
<subject authority=""><topic>Udang  Vannamei</topic></subject>
<classification>0364/IX/2019/K</classification><identifier type="isbn"></identifier><location>
<physicalLocation>Perpustakaan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo Politeknik Kelautan dan Perikanan Library Management System</physicalLocation>
<shelfLocator></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1">B09030</numerationAndChronology>
<sublocation></sublocation>
<shelfLocator></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:image>NULL</slims:image>
<recordInfo>
<recordIdentifier>6391</recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-10-24 15:09:25</recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-10-28 08:44:30</recordChangeDate>
<recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>