Identifikasi dan Penanganan Penyakit Parasit Pada Nila (Oreochromis niloticus) di Balai Budidaya Ikan Air Tawar (BBIAT) Desa Muntilan, Kab. Magelang Jawa Tengah
Ikan merupakan salah satu hewan air yang selalu bersentuhan dengan lingkungan perairan sehingga mudah terinfeksi patogen melalui air. Infeksi bakteri dan parasit tidak terjadi pada hewan darat melalui perantara udara, namun pada ikan sering terjadi melalui air. Air pada budidaya ikan, tidak hanya sebagai tempat hidup tapi juga sebagai perantara bagi patogen (Cahyono, 2000).
Maksud dari Kerja Praktek Akhir ini yaitu Mengikuti seluruh kegiatan Identifikasi dan Penanganan Penyakit Parasit Pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Balai Budidaya Ikan Air Tawar (BBIAT) Muntilan, Magelang Provinsi Jawa Tengah.
Tujuan dari kegiatan Kerja Praktek Akhir adalah Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang identifikasi dan penanganan penyakit parasit pada ikan Nila di Balai Budidaya Ikan Air Tawar (BBIAT) Muntilan, Magelang Provinsi Jawa Tengah.
Sumber data yang dikumpulkan pada Kerja Praktek Akhir (KPA) ini adalah data primer dan data sekunder. Pengertian data primer dan data sekunder (Narbuko dan Achmadi, 2001) adalah :
a. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat atau langsung dari sumber di tempat KPA. Adapun pengaplikasian data primer yang diambil pada KPA ini adalah mengenai fasilitas laboratorium, mengidentifikasi penyakit parasit dari pengambilan sampel, diagnosa penyakit parasit, teknik identifikasi penyakit parasit hingga tahap akhir yaitu tindakan hasil identifikasi.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data atau informasi yang diperoleh secara tidak langsung dari sumbernya, bisa dari literatur di perpustakaan. Seperti buku jurnal dan laporan proses kegiatan sistem identifikasi parasit ikan, keadaan umum lokasi, dan sejarah berdirinya lembaga BBIAT Muntilan.
Pengambilan sampel dilakukan menggunakan seser kemudian dimasukkan dalam kantong plastik dengan dilengkapi oksigen, lalu diikat menggunakan karet dan diberi label. Sampel yang diambil adalah sampel ikan hidup yang mempunyai tanda-tanda atau gejala-gejala klinis atau sakit, seperti nafsu makan ikan berkurang, gerakannya lambat, terdapat luka pada tubuh ikan, atau perubahan seperti warna dan terdapat tanda-tanda seperti bintik putih dan pendarahan pada ikan (Heni, 2012).
Identifikasi penyakit parasit di BBIAT Muntilan menggunakan metode mikroskopis. Mikroskopis yaitu metode pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop. Sesuai dengan Samsundari dan Handajani (2005). Pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop terhadap ektoparasit maupun endoparasit pada organisme yang tidak mampu untuk dilihat secara jelas maupun tidak dapat dilihat sama sekali dengan metode pengamatan makroskopis. Parasit pada organisme dapat diidentifikasi setelah melihat gejala yang ditimbulkan oleh parasit tersebut terhadap inangnya, Samsundari dan Handajani (2005). Sebelum dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu dilakukan pengamatan gejala klinis pada ikan dan dicatat pada lembar disposisi pemeriksaan. Pengamatan gejala klinis dilakukan oleh analis dan penyelia parasit cara gejala klinis dengan mengamati kondisi tubuh (sisik dan lendir), dan bagian sirip. Setelah dilakukan pengamatan gejala klinis dilakukan identifikasi parasit.
Adapun langkah-langkah identifikasi parasit di laboratorium BBIAT Muntilan adalah sebagai berikut :
• Mengambil Sampel
Sampel diambil dari kolam dengan menggunakan gayung dan diletakkan didalam ember, kemudian dibawa ke laboratorium penyakit untuk dilakukan identifikasi.
• Membunuh Ikan
Ikan dimatikan dengan cara ditusuk pada bagian otak menggunakan jarum ose tusuk. Hal ini dikarenakan untuk mempermudah dalam pengukuran panjang dan berat, pembedahan serta pengambilan organ.
• Pengambilan Organ Sampel
Organ sample yang diperiksa terlebih dahulu dilakukan proses nekropsi. Proses nekropsi merupakan proses pengambilan organ pada ikan yang akan diperiksa. Adapun prosedur nekropsi adalah sebagai berikut :
• Organ sampel ikan yang akan diperiksa yaitu sirip, insang dan lendir. Sebelum organ diambil dan diletakkan pada objek glass, terlebih dahulu siapkan objek glass diatas meja yang diletakkan diatas tissue, diberi label dan larutan aquades sebanyak 2-3 tetes, digunakan dengan tujuan agar parasit tetap hidup sehingga parasit mudah di identifikasi. Cara pengambilan organ adalah sebagai berikut :
• Mengerok dan potong bagian sirip menggunakan pengerok dan gunting untuk memotong.
• Mengerok bagian lendir/tubuh menggunakan pengerok dan gunting untuk memotong.
• Membuka tutup insang dan ambil insang menggunakan gunting.
• Apabila diperlukan atau terlihat terdapat parasit pada bagian organ dalamnya. Ini karena pada organ dalam jarang ditemukan adanya parasit.
• Letakkan setiap masing-masing organ yang diambil keatas objek glass yang telah diberi larutan aquades.
• Pengamatan dengan mikroskop
• Amati dan catat ke dalam buku tulis.
Berdasarkan hasil pemeriksaan penyakit parasit terhadap sampel selama pelaksanaan KPA di BBIAT Muntilan ditemukan 3 jenis parasit, diantaranya adalah parasit ,Dactylogyrus sp., Trichodina sp., dan Gyrodactylus sp.
Kegiatan pengobatan di BBIAT Muntilan dengan melakukan perendaman ikan kedalam larutan garam. Cara pengobatan dari timbulnya penyakit parasit yang menyerang ikan Nila yaitu dengan melakukan pemberian garam yang dilarutkan dalam air kolam dengan dosis 500 gram/m3. Kemudian ikan Nila dimasukan selama 5-10 menit dan kemudian diangkat dan dimasukan ke kolam sebelumnya. Pemberian garam (NaCl) ini bertujuan untuk membunuh penyakit yang akan atau telah menyerang ikan Nila.
Pada proses pengeringan kolam dilakukan secara alami (menggunakan sinar matahari) sekitar 2- 3 hari tergantung pada keadaan cuaca dan ketebalan lumpur di kolam. Adapun tujuan dari pegeringan adalah: untuk mengudarakan gas-gas beracun seperti NHs, H2S dan lainnya yang mungkin ada dalam tanah dasar kolam; Membunuh predator, hama dan penyakit; Menaikkan tingkat keasaman tanah dasar kolam; Membantu merangsang dan melakukan pemijahan; Pengeringan kolam pendederan.
Pembalikan tanah dilakukan dengan cara dicangkul. Tujuan dari pembalikan tanah adalah untuk mengudarakan gas beracun dan mempercepat pengeringan dasar kolam.
Proses pengapuran dilakukan dengan cara menabur serbuk-serbuk kapur tohor atau kapur pertanian pada seluruh dasar kolam dari mulai tepi pinggir hingga tengah terutama pada bagian kolam yang masih tergenang air, dosis yang digunakan dalam pengapuran adalah 50 gram/m2. Tujuan dari proses pengapuran adalah membunuh bibit-bibit penyakit yang berada di dasar kolam serta menstabilkan atau mengoptimalkan pH dalam air.
Pemupukan dilakukan setelah pengapuran. Pupuk yang digunakan menggunakan pupuk kandang, kotoran ayam dan kotoran sapi atau kotoran kerbau sebanyak 0,5 kg/m2. Proses pemupukan dilakukan dengan cara meletakkan pupuk pada sudut-sudut kolam dan ditengah kolam. Pemupukan ini bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami yang berupa plankton sehingga tersedia pakan yang cukup untuk pemeliharaan benih berumur 1 bulan.
Berdasarkan pelaksanaan Kerja Praktek akhir (KPA) di Balai Budidaya Ikan Air Tawar (BBIAT) Muntilan dapat disimpulkan bahwa:
1. Tahapan identifikasi di Balai Budidaya Ikan Air Tawar (BBIAT) Muntilan meliputi : menyiapkan alat dan bahan, mematikan atau membius ikan, pengamatan gejala klinis, pengambilan organ, pengamatan mikroskop dan prevalensi parasit yang ditemukan
2. Hasil pemeriksaan pada benih ikan nila ditemukan penyakit parasit yang menyerang benih ikan nila di BBIAT Muntilan meliputi Prevalensi serangan parasit pada ikan nila selama Kerja Praktek Akhir Trichodina sp. (43%), Gyrodactylus sp. (24%) dan Dactylogirus sp. (33%).
3. Prosedur pencegahan parasit di Balai Budidaya Ikan Air Tawar (BBIAT) Muntilan Meliputi :
Persiapan kolam terdiri dari :
• Pengeringan dilakukan selama 3-5 hari sampai tanah retak-retak
• Pengolahan dasar tanah dilakukan dengan cara membalik tanah secara merata.
• Pengapuran menggunakan kapur tohor atau kapur pertanian dengan dosis 500 gram/m2.
• Pemupukan menggunakan pupuk kandang dengan dosis 500 gram/m2.
4. Tindakan pengobatan parasit meliputi : Perendaman dilakukan pada bak karantina dengan volume 2 x 3 m2 dengan ketinggian air 1 m dengan dosis 500 gram/m3, selama 5-10 menit
Berdasarkan hasil Kerja praktek Akhir (KPA) di Balai Budidaya Ikan Air Tawar (BBIAT) Muntilan dapat disimpulkan bahwa :
1. Perlu adanya kemajuan tindakan pemeriksaan penyakit parasit untuk mencegah adanya kerugian atau kematian pada budidaya ikan air tawar
2. Perlunya perawatan alat – alat untuk laboratorium utamanya alat untuk otopsi bedah (nekropsi) karena selama KPA alat – alat yang digunakan ada beberapa yang rusak dan berkarat tetapi masih bisa digunakan.







