Identifikasi Penyakit Virus KHV (Koi Herpes Virus) pada ikan air tawar dengan metode PCR (Polymerase chain Reaction) Konvensional di Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta
Indonesia memiliki daerah perairan yang sangat luas dan berpotensi besar untuk usaha budidaya berbagai macam jenis ikan air tawar, payau, maupun laut. Secara ekonomis, usaha budidaya ikan air tawar (ikan mas, nila, koi, gurami, dll) sangat menguntungkan karena komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Selain itu, serapan pasar komoditas tersebut tidak hanya terbatas di dalam negeri, melainkan hingga pasar Internasional. Untuk mencapai target produksi perikanan tersebut berbagai permasalahan muncul dan dapat menghambat upaya peningkatan produksi, antara lain akibat serangan wabah penyakit ikan yang bersifat patogenik baik dari golongan parasit, jamur, bakteri, dan virus (Afrianto, 2015). Virus merupakan phatogen yang dapat menyebabkan penyakit pada ikan dan mengakibatkan kerugian yang sangat signifikan dalam waktu yang singkat dengan tingkat kematian yang tinggi dibandingkan jenis pathogen lainnya (Sunarto et al., 2009). Koi Herpes Virus (KHV) atau yang dikenal juga dengan Cyprinid Herpes Virus 3 (CyHV-3) adalah jenis virus yang mengingfeksi ikan mas dan koi dan dapat menyebabkan kematian massal, Hasil deteksi pertama kali di israel pada tahun 1998 dan selanjutnya Amerika, wabah KHV dilaporkan telah tersebar di berbagai wilayah seluruh dunia. KHV masuk ke indonesia pada tahun 2002 melalui perdagangan ikan lintas negara (Hendrik et al,. 2018
Maksud dari pelaksanaan Kerja Praktek Akhir ini adalah mengikuti seluruh kegiatan teknik identifikasi penyakit virus KHV (Koi Herpes Virus) pada ikan air tawar melalui penerimaan sampel, sterilisasi alat, preparasi sampel, ekstraksi DNA, Amplifikasi DNA, elektroforesis, dan pembacaan hasil uji. Tujuan dari Kerja Praktek Akhir antara lain:
1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam identifikasi penyakit virus KHV (Koi Herpes Virus) pada ikan air tawar.
2. Mengetahui prosedur penggunaan PCR (Polymerase Chain Reaction) konvensional dalam identifikasi penyakit virus KHV (Koi Herpes Virus) pada ikan air tawar.
Kegiatan Kerja Praktek Akhir telah dilaksanakan mulai tanggal 04 Maret 2019 sampai dengan 24 Mei 2019 di Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta yang terletak di Jl. Kenanga No. 26A Desa Sambilegi Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Kerja Praktek Akhir ini adalah metode survei dan magang. Menurut Nazir (2003), survei adalah metode penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah. Jadi bisa disimpulkan survei adalah metode untuk mengumpulkan informasi dari kelompok yang mewakili sebuah populasi, tentang kegiatan identifikasi penyakit KHV pada ikan air tawar. Sedangkan untuk memperoleh keterampilan, penulis menggunakan metode magang. Sumber data yang diperoleh dari data primer dan data sekunder (Suparmoko, 1999). Teknik pengumpulan data yang kami lakukan adalah dengan pengamatan dan wawancara, sedangkan teknik pengelolaan data yang digunakan yaitu editing, tabulating dan analizing.
Metode pemeriksaan virus yang digunakan di Stasiun KIPM Yogyakarta ini menggunakan Metode PCR kovensional. Pemeriksaan ini dilakukan sesuai permohonan pengguna jasa yang akan mengirim ikan ke daerah tertentu dengan persyaratan tertentu. Metode ini dilakukan dengan proses awal yaitu setelah preparasi sampel dilanjutkan dengan nekropsi sampel yaitu pengambilan organ target, pemeriksaan penyakit KHV untuk ikan ukuran >2 cm organ target berupa insang dan untuk ukuran ikan < 2 cm organ target seluruh tubuh, Kemudian dilakukan Proses ekstraksi sampel meliputi inkubasi, pemberian beberapa reagen dan larutan dan proses pencucian dan pemisahan supernatan dengan alat sentrifuge. Lalu dilanjutkan proses amplifikasi yaitu proses pemberian primer-primer ke dalam DNA template ukuran sesuai ketentuan IKM (Instruksi Kerja Metode) Stasiun KIPM Yogyakarta, tahap selanjutnya DNA template dimasukkan kedalam mesin PCR ± 90 menit dengan pengaturan program PCR.
Setelah tahap pada mesin PCR selesai selanjutnya proses elektroforesis dengan menggunakan gel agarose yang telah dilarutkan dengan TAE Buffer. kemudian sampel yang sudah di PCR dimasukkan kedalam sumur-sumur yang telah dibuat dalam cetakan. Dimasukkan kedalam mesin elektroforesis ± 30 menit. Setelah itu gel diambil dimasukkan kedalam UV trasilluminator untuk mengetahui hasil pembacaan sampel tersebut positif atau negatif penyakit KHV.
Hasil pelaksanaan Kerja Praktek Akhir di Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta, dari 39 sampel yang didapat seluruh sampel negatif penyakit KHV (Koi Herpes Virus). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penyebaran virus KHV (Koi Herpes virus) diwilayah kerja Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta telah dapat ditanggani dan dikendalikan terlihat dengan keseluruhan sampel masuk yang negatif KHV (Koi Herpes Virus).
Dari pelaksanaan Kerja Praktek Akhir di Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Identifikasi penyakit Koi Herpes Virus meliputi penerimaan sampel, sterilisasi alat, preparasi sampel, ekstraksi DNA, Amplifikasi DNA, elektroforesis, dan pembacaan hasil uji pada UV Transiluminator.
2. Tahapan uji virus dilaksanakan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).
3. Sampel yang diperiksa adalah berbagai jenis ikan air tawar meliputi Ikan Mas, benih ikan mas, ikan koi, benih koi, ikan gurame, benih gurami, telur gurami, ikan nila, benih nila dan larva nila.
4. Dari 39 sampel yang diuji tidak teridentifikasi penyakit KHV (Koi Herpes Virus).
Berdasarkan hasil Kerja Praktek Akhir di Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Yogyakarta dapat disarankan perlu disediakan intalansi pengelolaan limbah hasil identifikasi.







