Teknik Pemeliharaan Larva udang vannamei (litospanaeus vannamei) di UD Benur Ndaru Laut, Desa Ketapang, Kec. Kalipuro, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur
ISLAMIARTIKA DEWI RUSMAHARANI.16.3.02.012. Teknik Pemeliharaan Larva Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) di UD. Ndaru Laut Desa Ketapang Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur. Dibawah bimbingan Dosen Pembimbing I bapak Ir. Moh. Zainal Arifin, MP dan Dosen Pembimbing II Bapak Ir. Teguh Harijono, MP.
Tujuan dari Kerja Praktek Akhir ini adalah mempelajari teknik pemeliharaan larva udang vannamei sebagaimana yang diterapkan oleh UD. Ndaru Laut Serta untuk mengetahui hasil produksi benur udang vannamei yang dihasilkan oleh UD. Ndaru Laut.
Persiapan bak pemeliharaan meliputi pencucian bak tahap I,sterilisai, pemasaangan aerasi,fumigasi, dan pencucian bak tahap II. Pencucian bak tahap I menggunakan datergen sebanyak 30.000 ppm dan oxalic acid sebanyak 60.000 ppm dibilas menggunakan air tawar dan dikeringkan selama 2 hari. Sterilisasi peralatan menggunakan formalin sebanyak 500 ppm selama 12 jam.
Pemasangan aerasi sebanyak 250 titik dengan jarak 40 cm, pemasangan menempel pada bak pemeliharaan. Fumigasi ruangan menggunakan formalin 1000 ppm yang diteteskan dalam kaleng berisi PK (KMnO4) sebanyak 500 gr sedangkan dumigasi bak diakukan dengan cara menyemprotkan formalin 37% sebanyak 1000 ppm.
Sumber air tawar didapatkan dari sumur bor berjarak 10 m dibelakang hatchery dan sumber air laut didapatkan dari selat bali yang disedot menggunakan pipa sepanjang 500 m. Air laut yang disedot ditreatment melalui sand filter I-VI, bak reservoir, proses ozonisasi, tandon air laut, presure filter kemudian kebak pemeliharaan larva. Pengisian air laut sebanyak 12,5 m3 dan ditambah sebanyak 1,5 m3 dan di treatment menggunakan EDTA 10 ppm.
Padat tebar naupli 139 ekor/liter. Naupli yang digunakan dari Delta situbondo. Aklimatisasi dilakukan kedalam bak berkapasitas 50 liter menggunakan sistim flow trough selam 30 menit. Jadwal penebaran 2-3 bak perhari.
Manajement pakan menggunakan pakan buatan dan pakan hidup. Pakan buatan yang diberikan berupa powder dan pasta. Pemberian pakan alami berupa phytoplankton dan zooplankto. Phytoplankton berupa Chaetoceros sp dan Skeletonema sp sedangkan zoo plankton yaitu artemia sp.
Manajement kualitas air berupa parameter fisika suhu mencapai 30-32,5 ºC, Salinitas 30-34 ppt, parameter kimia pH 8,3-8,4, alkali 109-154,2 ppm, DO 5,08-5,64 ppm, NH3 0-0,52 mg/liter dan NH4 0-4,8 mg/liter.NO2 0-03 mg/liter. Parameter biologi yaitu vibrio green sample air 0 sample larva 0 dan yellow sample air 2x102 dan 5x101. Pergantian air menggunakan sistem sirkulasi dan aplikasi probiotik menggunkaan Epicin D dan Del-Vi.
Monitoring kondisi dan pertumbuhan larva penganmatan makroskopis secara langsung menggunakan beaker glass mengamati gerakan larva serta perhitungan larva.Sedangkan pengamatan mikroskopis yaitu GMR, necrosis, dan Ectoparasit.
Pengendalian penyakit menggunakan penerapan bioscurity dan monitoring kesehatan dan pertumbuhan larva, namun selama pelaksanaan KPA. Tidak ditemukan penyakit hanya necrosis yang ditangani dengan penambahan pakan.
Panen dilakukan pada stadia PL6 dengan ukuran benur 6,6 mm. Pengemasan menggunakan sistim terbuka dengan menggunakan blong. Pengiriman ke Delta Situbondo.
Pengelolaan air limbah melalui Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) yang berbentuk gorong-gorong didalamnya terdaat arang yang berfungsi mengikat bahan organik dan menjernihkan air sehingga air yang dibuang kelaut aman.
Kesimpulan yang didapatkan dari pemeliharaan larva di UD. Ndaru Laut yaitu secara teknis berjalan dengan baik, seluruh kegiatan produksi sudah sesuai dengan penjadwalan dan fasilitas pemeliharaan larva lengkap.
Pemberian pakan, dosis, jenis, dan frekuensi tepat sehingga pertumbuhan larva optimal dengan panjang PL 6 mencapai 6,6 mm melebihi standard perusahaan yaitu 6,0 mm.
Pengelolaan air dikatakan baik karena tidak terjadi perubahan parameter kualitas air yang sangat fluktuatif setiap harinya. Hasil pengukuran kualitas air meliputi : Suhu 30-32,5 0C, Salinitas 30-34 ppt, pH 8,3-8,4, DO 5,1-5,6, ammonium 0-4,8 ppm, ammonia 0-0,52, Nitrit 0-0,3, dan alkalinitas 109-152 ppm.
Pengendalian penyakit baik ditandai dengan tidak ditemukan adanya penyakit yang menyerang larva selama melaksanakan KPA dikarenakan adanya penerapan prinsip tindakan pencegahan berupa penerapan sistem biosecurity sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan.
Dari hasil Scoring Quality Test dapat menghasilkan benur yang berkualitas baik gread A. Produksi benur yang dihasilkan dalam dua siklus produksi (2 bulan) pada siklus pertama dari penebaran sebanyak 27.400.000 didapatkan panen sebesar 18.400.000 didapatkan SR 67,15% dan siklus kedua dari penebaran sebanyak 28.300.000 didapatkan panen sebesar 16.660.050 didapatkan SR 58,87%, produksi melebihi standart SNI mencapai 30%.
Saran sebaiknya hasil pengelolaan limbah sebelum dibuang keperairan bebas dikontrol terlebih dahulu secara rutin, untuk memastikan hasil buangan limbah tidak menyalahi aturan pengolahan limbah CPIB.
Sebaiknya proses pengambilan sample benur lebih diperhatikan dengan disediakan pipet khusus untuk setiap nomor baknya, sehingga dapat mengurangi resiko kontaminasi dari bak lain.







