Teknik Pemeliharaan Larva udang vannamei (litospanaeus vannamei) di PT. Central Pertiwi bahari (CPB) Desa Sumbersari Kec. Kragan Kab. Rembang, Jawa Tengah
Negara indonesia termasuk negara maritim dengan luas wilayah laut sekitar 8,5 juta km2. Lautan yang dimiliki oleh Indonesia menyimpan beragam potensi untuk dikembangkan, di antaranya pengembangan sumber perikanan ( Erlangga, 2012). Salah satu sumber daya perikanan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan adalah udang. Kebutuhan benih udang vannamei di Indonesia diperkirakan mencapai 170 juta ekor setiap bulan namun hanya dapat terpenuhi 25 juta ekor. Kesalahan dalam teknik pemeliharaan juga akan berdampak pada timbulnya penyakit, pemborosan biaya, pertumbuhan lambat dan lain sebagainya. Sehingga dapat mengakibatkan menurunnya hasil produksi, oleh karena itu, proses pemeliharaan larva sangat penting dalam kegiatan pembenihan khususnya pada udang vannamei.
Tujuan yang ingin didapatkan dari pelaksanaan Kerja Praktek Akhir di PT. CPB Rembang yaitu : Mengikuti kegiatan kegiatan teknik pemeliharaan larva udang vannamei (Litopenaeus vannamei) mulai dari naupli hingga panen dan pasca panen. Serta untuk mengetahui kapasitas produksi benih udang vannamei di PT. Central Pertiwi Bahari Rembang.
Kerja Praktek Akhir dilaksanakan tanggal 04 Maret – 24 Mei 2019 di Unit Hatchery PT. Central Pertiwi Bahari Desa Sumbersari Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam pelaksanakan KPA adalah metode survey dengan pola magang.
Kegiatan pemeliharaan larva udang vannamei dimulai dari Fumigasi menggunakan KmnO4 500 gram dan formalin 250 ml (2 : 1). Pencucian bak menggunakan iodin 1000 ppm dan detergen 10 g/L. Aerasi dipasang 132 titik dengan jarak antar titik aerasi 50 cm dan jarak aerasi dengan dasar bak 2 cm.
Penyediaan air tawar dilakukan dengan memompa air tawar dari sumur bor ke bak penampungan. Kemudian didistribusikan ke unit yang memerlukan air tawar dengan melalui pressure filter dan sinar UV. Sedangkan penyediaan air laut berasal dari laut jawa, air di treatment melalui bak pengendapan, penyaringan I, tandon I, penyaringan II, ozonisasi, tandon II kemudian siap digunakan untuk kegiatan pemeliharaan larva. Pengisian air ke bak pemeliharaan dilakukan 2 hari sebelum penebaran naupli (volume 21 m3 atau ± 62% dari volume bak 27 m3). Naupli berasal dari PT. CPB Situbondo. Naupli yang baru datang melewati beberapa tahapan yaitu sterilisasi kantong (iodin 200 ppm), pengecekan FHM (panjang = 0,429 mm, stadia = N5 – N6 dan kesehatan = sesuai standart), aklimatisasi (± 15 menit), rinsing (2 jam) dan dipping ( air laut 30 L, iodin 200 ppm dan air laut 30 L). Naupli yang ditebar harus berkualitas baik sesuai standar yang diterapkan. Standar padat tebar naupli adalah>140 ekor naupli/liter.
Pakan yang diberikan berupa pakan hidup dan pakan buatan. Pakan hidup yang diberikan berupa algae dan artemia. Pakan algae terdiri dari Thallasiosira sp., Tetraselmis sp. dan Chaetoceros sp. diberikan mulai stadia Zoea 1 - Mysis 3. Artemia diberikan stadia MPL-Panen. Pakan buatan berupa Spirulina, CP00, CP01, CP02, dan CP03. Pakan buatan diberikan mulai stadia Zoea 1 – panen.
Pengelolaan kualitas air yang dilakukan meliputi monitoring kualitas air, pergantian air dan aplikasi probiotik. Pengecekan kualitas air meliputi suhu, pH, DO, salinitas yang dilakukan setiap hari, sedangkan alkalinitas dan amoniak dilakukan pada stadia Zoea 2, Mysis 2, MPL, PL 5 dan PL7. Hasil pengukuran kualitas air adalah pH 7,8 – 8,2 (pagi) dan 7,9 – 8,4 (sore), Suhu 30 – 33 (pagi) dan 31 – 34(sore), Salinitas 25 – 32 ppt, DO 5,41 – 5,89 ppm (pagi) dan 5,43 – 6,01 ppm (sore), Amoniak 0 – 0,17, Alkalinitas 108 – 152 ppm. Pengurangan air stadia Mysis sebanyak 1-3 ton. Stadia Post Larva pengurangan air dilakukan sebanyak 4-6 ton. Penambahan air tawar dilakukan mulai PL 2. Pemberian probiotik Pergantian air dimulai dari stadia mysis 1 sampai panen sebanyak 1 - 6 ton. Aplikasi probiotik berupa VannaPro ( zoea = 3 ppm, mysis = 5 ppm dan MPL – PL = 8 ppm), super NB dan super media ( zoea = 0,5 ppm, mysis = 1 ppm dan MPL – PL = 1,5 ppm).
Pengamatan pertumbuhan larva dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Dari pengamatan makroskopis dapat disimpulkan perkembangan perubahan stadia tepat waktu yaitu naupli ke zoea ( 24 jam), zoea ke mysis (3 hari) dan mysis ke PL ( 3 hari), untuk pengukuran panjang diperoleh hasil pertumbuhan panjang yang lebih cepat dibandingkan dengan standar yang diterapkan yaitu pada PL9 panjang 8,3 mm (standar 8,0 mm). Pengamatan mikroskopis dapat disimpulkan untuk pengamatan morfologi baik hal ini berdasarkan pengecekan kelengkapan organ tubuh, gut mulai Z1 – PL1 kategori bagus ( 71 – 100%) tetapi pada stadia PL 2 - 3 (







