Pengelolaan kualitas air pada pembesaran udang vannamei (litospanaeus vannamei) secara intensif di PT. Andulang shrimp farm, Dusun Laok Lorong, Desa Andulang, Kec. Gapura Kab. Sumenep, Jawa Timur
PRAMAISHELA EVANGELISTA ARITMATIKA. TBP. 16.3.02.026. Pengelolaan Kualitas Air Pada Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Secara Intensif Di PT. Andulang Shrimp Farm. Dibawah Bimbingan Bapak Dr. Hery Riyadi Alauddin, S.Pi, M.Si. Selaku Dosen Pembimbing 1 dan Ibu Lusiana BR. Ritonga, MP. Selaku Dosen Pembimbing 2.
Udang vannamei adalah salah satu komoditas yang menjadi tren di industri budidaya perikanan. Keunggulan yang menjadikan udang vannamei sebagai primadona perikanan antara lain permintaan pasar internasional yang tinggi. Oleh karena itu produksi udang vannamei perlu ditingkatkan.
. Peningkatan produksi udang ditingkatkan dengan sistem padat tebar yang tinggi. Kekurangan dari sitem ini adalah membutuhkan pakan dalam jumlah yang banyak, sehingga dapat menurunkan kualitas air. Kualitas air menentukan keberadaan berbagai jenis organisme yang ada dalam ekosistem tambak, baik terhadap kultivan yang dibudadayakan maupun biota lainnya sebagai penyusun ekosistem tambak tersebut. Kualitas air juga merupakan salah satu faktor yang menjadi kunci keberhasilan usaha budidaya tambak udang. Penurunan kualitas air ini akan menyebabkan udang stress dan menimbulkan penyakit sehingga sering menyebabkan kegagalan dalam kegiatan pembesaran udang.
Maksud dari pelaksanaan Kerja Praktek Lapang Akhir (KPA) ini adalah untuk mengetahui sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam kegiatan pengelolaan kualitas air pada pembesaran udang vannamei secara intensif, cara pengukuran kualitas air yang tepat, serta hal lain yang berkaitan erat dengan kegiatan pengelolaan kualitas air.
Tujuan dari pelaksanaan Kerja Praktek Akhir ini adalah : Mempelajari teknik pengelolaan kualitas air pada pembesaran udang vannamei (Litopenaeus vannamei) secara intensif sebagaimana yang dilaksanakan oleh PT. Andulang Shrimp Farm Sumenep, Mengetahui dampak kualitas air terhadap hasil produksi udang vannamei (Litopenaeus vannamei).
Praktek Kerja Akhir ini dilaksanakan pada tanggal 4 Maret 2019-24 Mei 2019 di tambak PT. Andulang Shrimp Farm Dusun Laok Lorong Desa Andulang Kecamatn Gapura Kabupaten Sumenep Jawa Timur. Metode yang digunakan adalah metode survey dan magang.
Tambak yang terdapat di PT. Andulang Shrimp Farm adalah tambak intensif terbuat dari HDPE (High Dencity Poly Ethilen) dengan luas 2601 m2. Pada persiapan lahan meliputi pembersihan setelah panen, pengeringan selama 10 – 15 hari, perbaikan konstruksi meliputi penambalan plastik HDPE yang sobek, perbaikan tiang pancang pada kincir, Persiapan air media yang dilakukan di petakan dengan ketinggian awal 120 cm. ditreatment langsung dengan TCCA (Trichlor Caporit Acid) dengan dosis 25 ppm, penumbuhan plankton dilakukan dengan penebaran pupuk ZA dengan dosis 5 ppm, fermentasi menggunakan dedak, ragi, dan molase.
Benur yang digunakan merupakan benur keturunan pertama (F1) yang berkualitas baik dengan sertifikat SPF (Specific Pathogen Free) sehingga kualitas benur terjamin dan benur memasuki PL 9 . Dengan benur sebanyak 476.809 dengan padat tebar 183 ekor/m2.
Pengelolaan pakan cukup baik ,dilakukan dengan blind feeding pada DOC 1-20 dan pasca blind feeding pada DOC 21-panen. Frekuensi pada pakan blind feeding sebanyak 2-4 kali dengan dosis 3kg/100.000 udang dengan total pakan yang dihabiskan 462 kg. Pada pasca blind feeding frekuensi pemberian pakan 5 kali sehari dengan penambahan dan pengurangan berdasarkan anco dan total pakan 13.893 kg.
Dari monitoring kualitas air di dapatkan hasil sebagai berikut : Kecerahan (25 – 90 cm), Suhu (27,0 – 31,8°C), DO (4,03 – 5,60 ppm), pH (7,1 – 8,7), Salinitas (19 – 31 ppt), Alkalinitas (74 – 154 mg/l), TOM (24,80 – 90,00 mg/l), Amonium NH4 (0,5 - 5 mg/l), Nitrit NO2 (0,5 – 18 mg/l), Phospat (0,25 – 18 mg/l). Plankton yang mendominasi adalah jenis dari Green Algae, Diatom,Dinoflagelata, Blue Green Algae. Monitoring Bakteri berupa Total Vibrio Colouni (TVC) dan Total Bakteri Colouni (TBC).
Penyiponan awal dilakukan pada DOC 25. Penambahan air dilakukan setiap 10 hari sekali sebanyak 10 cm. Aplikasi probiotik dilakukan dengan dosis 10 ppm dilakukan setiap hari dan biomin dengan dosis 500 gram, aplikasi kapur dilakukan dengan dosis 25 kg.
Monitoring pertumbuhan sampling dilakukan setiap 10 hari sekali,dengan laju pertumbuhan ABW dari 0,05 -22,10 gr dan ADG dari 0 -0,36 gr.Pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan dengan penerapan biosecurity. Hama yang ditemukan berupa ular, biawak,burung dan penangan ditangkap secara langsung. Tidak ditemukan penyakit yang ditemukan selama pelaksanaan KPA, namun dari data sekunder ditemukan WFD (White Feces Disease).
Panen dilakukan dengan 2 sistem panen yaitu panen parsial dan panen total dari hasil panen parsial 1 petak F3 didapatkan hasil sebanyak 1.072,41 kg dengan size 79,10, panen parsial 2 di dapat hasil sebanyak 1.087,58 dengan size 52,50 , dan panen total sebanyak 9.129,80 kg dengan size 35,50.
Dari hasil Kerja Praktek Akhir (KPA) yang telah dilaksanakan di PT. Andulang Shrimp Farm di dapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Pengelolaan Kualitas air cukup baik dibuktikan dengan : Kecerahan (25 – 90 cm), Suhu (27,0 – 31,8°C), DO (4,03 – 5,60 ppm), pH (7,1 – 8,7), Salinitas (19 – 31 ppt), Alkalinitas (74 – 154 ppm), TOM (24,80 – 90,00), Amonium NH4 ( 0,5 - 5 ppm), Nitrit NO2 ( 0,5 –18 ), Phospat (0,25 – 18 ppm),Plankton yang mendominasi adalah jenis dari Green Algae, Diatom,Dinoflagelata, Blue Green Algae,Monitoring Bakteri berupa Total Vibrio Colouni (TVC) dan Total Bakteri Colouni (TBC).
2. Pengelolaan Kualitas air cukup baik dibuktikan dengan hasil panen parsial 1 petak F3 didapatkan hasil sebanyak 1.072,41 kg dengan size 79,10 , panen parsial 2 di dapat hasil sebanyak 1.087,58 dengan size 52,50, dan panen total sebanyak 9.129,80 kg dengan size 35,50 dengan total 11.289,79 kg dengan SR 97,87%.
Saran yang diberikan pada PT. Andulang Shrimp Farm adalah :
1. Dalam pengelolaan limbah sebaiknya dilakukan pengelolaan terlebih dahulu sehingga ketika dibuang ke laut tidak mencemari lingkungan.
2. Meningkatkan pengelolaan kualitas air sehingga kualitas air menjadi lebih baik dan tidak melebihi batas optimum.







