Teknik pembesaran udang vannamei (litospanaeus vannamei) Sistem intensif di PT. Pyramide Paramount Indonesia, Desa Brengkok, Kec. Brondong, Kab. Lamongan, Jawa Timur
Pada budidaya udang putih dengan pola intensif manajemen pemberian pakan merupakan langkah awal yang harus diperhatikan untuk menentukan baik jenis, ukuran frekuensi dan total kebutuhan pakan selama masa pemeliharaan. Hal tersebut harus diperhatikan karena ketergantungan udang terhadap adanya suplai pakan dari luar lingkungannya akan semakin tinggi (Haliman dan Adijaya, 2015)
Dari uraian di atas maka penulis mengambil topik dalam pelaksanaan Kerja Praktek Akhir mengenai Manajemen Pakan Pada Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Sistem Intensif Pada PT. Pyramide Paramount Indonesia. Alasan penulis mengambil manajemen pakan ini karena ukuran dan jumlah pakan yang diberikan harus dilakukan secara cermat dan tepat sehingga udang tidak mengalami kekurangan pakan (underfeeding) atau kelebihan pakan (overfeeding). Pemberian pakan dalam jumlah yang tepat dapat membuat udang tumbuh dan berkembang ke ukuran yang maksimal. Jumlah pakan harus disesuaikan dengan biomassa udang. Sedangkan untuk Pemilihan lokasi Kerja Praktek Akhir yakni pada PT. Pyramide Paramount Indonesia dikarenakan karena pengelolaan tambaknya cukup baik mulai dari aspek teknis, aspek finansial, aspek manajemen sampai dengan aspek pemasaran, dengan ditandai nilai inefesiensi budidaya udang vannamei di perusahaan ini mencapai 23 % di tahun 2015 dan masih mampu ditingkatkan nilai efisiensinya hingga 23 %.
Kerja praktek akhir dilaksanakan di PT. Pyramide Paramount Indonesia Desa Brengkok Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan pada tanggal 4 Maret – 24 Mei 2019.
PT. PPI Lamongan memiliki batas utara dengan Laut Jawa, Timur dengan Desa Sidomukti, Selatan dengan Desa Cakaran, Barat dengan Desa Labuan. Pasokan air berasal dari sumur bor, yang kemudian di alirkan ke kolam tandon. Konstruksi petakan berupa HDPE 0,7 mm dengan dilengkapi Kincir, Autofeeder, dan Anco. PT. PPI Lamongan terdiri atas 3 unit yaitu A, B dan C dengan petakan budidaya sebanyak 14, 7, dan 14.
Pembersihan petakan dilakukan dengan cara menyemprot dinding petakan dengan air dari tandon yang dipompa menggunakan pompa air 6 dim, kemudian dinding petakan disikat hingga lumut dan trisipan yang menempel hilang. Perbaikan dilakukan jika terdapat kerusakan pada petakan seperti kebocoran di dasar atau dinding petakan akibat plastik yang berlubang atau robek dan juga kerusakan pada saluran air. Selain itu dilakukan pula perbaikan terhadap CPD (Crab Protecting Device) dan BSD (Bird Scaring Devide) untuk mencegah hama masuk ke dalam area budidaya. Setelahnya tambak dikeringkan selama 14 - 21 hari. Pemberantasa hama dan penyakit dilakukan dengan menggunakan TCCA (Trichloroisocyanuric Acid) 32,8 ppm, Kuprisulfat 0,005 – 0,020 ppm, dan Crustacide 1,4 ppm.
Benur didatangkan dari PT. Central Pertiwi Bahari berkualitas F1, berukuran PL 8. Tiap petakan ditebar benur antara 340.000 - 458.000 ekor dengan luasan petakannya antara 2.684 - 4.021 m².
Pengelolaan pakan menggunakan blind feeding dengan dosis 3 kg/ 100.000 ekor benur,dengan penambahan pakan 0,2 kg hingga DOC 10 hari, DOC 11 - 20 ditambah 0,4 kg, dan DOC 21 - 30 ditambah 0,8 kg. Pakan yang diberikan berupa pakan buatan. Pemberian pakan dilakukan 4 kali sehari yaitu pada pukul 07.00, 11.00, 16.00, dan 21.00. Untuk pakan pasca blind feeding menggunakan acuan index dengan nilai (0,2 % - 0,6 %) dengan memperhatikan respon pakan melalui anco. Cara pemberian pakan pada umur 1 hari s/d umur 23 hari dilakukan dengan pemberian secara manual selanjutnya umur 24 hari sampai panen menggunakan autofeeder.
Hasil parameter kualitas air suhu 27,7 – 31,2 ⁰C, hal ini didukung oleh pernyataan Haliman dan Adijaya (2005), bahwa suhu optimal bagi pertumbuhan udang berkisar antara 26 – 32 ºC. Salinitas 21 – 25 ppt, pH berkisar antara 8,1 – 9,5, DO berkisar antara 3,68 - 5,48 ppm.
Pengendalian hama yang dilakukan di PT. PPI yakni dengan cara memasang CPD dan BSD, selain itu juga digunakan Crustacide 1,4 ppm dan Kuprisulfat 2,9 ppm. Ditemukan penyakit IMNV dan WFD, IMNV diobati dengan aplikasi Super NB 0,46 ppm, WFD diobati dengan vannapro 0,051 ppm.
Monitoring pertumbuhan yang dilakukan dengan cara sampling. Kegiatan sampling dilakukan mulai saat umur 34 hari dan kemudian dilanjutkan 7 hari sekali. Berikut ini hasil dari monitoring pertumbuhan terakhir sebelum panen yang didapat ADG 0,058 gr dengan ABW 12,02 gr size 83.
Panen parsial bisa dilakukan sebanyak 3 kali dengan Parsial 1 15 – 20 % dari biomass, Parsial 2 15 – 20 % dari biomass, Parsial 3 20 – 25 % dari biomass. Panen parsial di PT. Pyramide Paramount Indonesia Lamongan Unit C dilakukan ketika udang memasuki DOC 66. Hasil panen parsial petak C10 dengan padat tebar awal 360.000 benur adalah 500 kg dengan MBW 12 gr, size 83, dengan populasi yang diparsial 41.667 ekor.
Petak C10 dilakukan panen total ketika udang memasuki DOC 73, Hasil panen total petak C10 adalah 3.238,5 kg dengan MBW 12,02 gram, size 83, dan populasi 269.426 ekor. Selama proses budidaya menghabiskan pakan sebanyak 4.694 kg. Dengan demikian diperoleh SR 86,41 % dan FCR 1,25.







