Teknik pembesaran udang vannamei (litospanaeus vannamei) secara intensif di PT. Sumber Lancar, Desa Landangan, Kec. Kapongan, Kab. Situbondo, Jawa Timur
WAIS AL QURNI. 16.3.02.033. Teknik Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus Vannamei) Secara intensif di PT. Sumber lancar Desa Landangan Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo Provinsi Jawa Timur Dibawah Bimbingan Bapak. Ir. Teguh Harijono, MP Selaku Pembimbing I. dan Bapak Ir. Muh Zainal Arifin, MP Selaku Pembimbing II.
Kerja praktek akhir dilaksanakan di PT. Sumber Lancar Desa Landangan Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo pada tanggal 4 maret – 24 mei 2019 dengan tujuan untuk mengetahui teknik budidaya udang yang dilaksanakan di PT. Sumber Lancar secara intensif.
PT. Sumber Lancar memiliki lahan 13 ha dan memiliki 10 petak budidaya dan 2 petak tandon, tambak dibuat dari HDPE, yang di amati mulai dari awal tebar hingga panen adalah petak B7.
Persiapan tambak diawali dengan Pengeringan selama 9 hari, setelah itu di sikat menggunakan sikat kamar mandi dan di siram dengan air tawar bersih serta pembersihan kincir air dengan disikat dan di keringkan. Petakan diisi dengan air laut yang sudah di endapkan di tandon selama 2 hari. Pemasangan kincir pada awal penebaran di pasang sebanyak 12 kincir akan Tetapi kincir dinyalakan pada saat awal tebar hanya 2 kincir yang dinyalakan dan dinyalakan 12 kincir pada saat udang berumur 50.
Benur didatangkan dari PT. Suma Situbondo berkualitas F1, penebaran dilakukan meskipun dengan belum tumbuhnya plankton pada petakan dengan ketinggian air 120 cm ditebar pada Sore hari dengan tujuan agar suhu tidak terlampau tinggi agar benur dapat mudah menyesuaikan suhu pada air media, di tebar sebanyak 559,994 ekor benur dengan luas 3975m² padat tebar 150 ekor/m².
Pengelolaan pakan menggunakan Feeding Program sampai panen dengan indek awal 0,5,dengan penambahan indek setiap 1 minggu Pakan yang diberikan berupa pakan buatan. Pemberian pakan dilakukan 5 kali pada saat DOC 24 sampai panen. yaitu pada pukul 07.00, 10.00, 13.00, 16.00 dan 19.00.
Hasil parameter kualitas air suhu pagi 28⁰C - 30 ⁰C dan pada sore hari suhu 30 ⁰C – 32 ⁰C.
Pada PT. Sumber Lancar dilakukan perbaikan mutu berupa 2 macam perlakuan yang pertama dengan memberikan Ensim dengan dosis 0,5 kemudian perlakuan yang kedua yakni dengan pemberian Aquazym dengan dosis 0,05.
Pengendalian hama yang dilakukan di PT. Sumber Lancar yakni dengan cara memasang Crab Protecting Device mengelilingi area tambak kemudian di tambah dengan membersihkan rumput di sekitar petakan tambak untuk mencegah adanya hama yang bersarang pada rumput, pada PT.Sumber Lancar selama praktek masih di temukanya penyakit yang menyerang pada udang yaitu penyakit WFD (White Feces Disease) hal ini dikarenakan pada saat proses persiapan kurang matang atau tidak di treatment dan juga tandon tidak di berikan treatment.
Monitoring pertumbuhan yang dilakukan memiliki 3 tujuan, yaitu pengamatan terhadap pertumbuhan, populasi dan kesehatan udang. Kegiatan monitoring dapat dilakukan dengan sampling. Kegiatan sampling dilakukan mulai saat umur 30 hari. Berikut ini hasil dari monitoring pertumbuhan rata-rata ADG 0,13-0,31 gram.
Waktu pemanenan dilakukan pada malam pukul 20.00 WIB hal ini dilakukan agar udang tidak cepat memutih/ memerah dan juga terhindar dari kerusakan saat panen berlangsung sebelum proses panen dilakukan terlabih dahulu sampling untuk mengetahui ukuran udang yang akan di panen dan didapatakan udang dengan bobot rata-rata udang 10,14gr gr/ekor dengan size 98 umur 65 hari ..Hasil panen sebanyak 4,614.54 kg/4,6 ton, fresh: 4.036.11 kg, BS : 50 kg, US : 528.43 kg dengan total pakan 8,132 kg/8,1 ton didapatkan FCR sebanyak 1.75 dengan SR 75%.
Kesimpulan yang didapat dari Hasil Kerja Praktek Akhr yaitu Fasilitas Budidaya di PT. Sumber Lancar Situbondo memenuhi standart sistem budidaya intensif. Persiapan lahan yang sudah baik ditandai dengan tidak adanya pathogen, dan parameter kualitas air optimal. Dalam penebran benur sudah baik ditandai dengan tidak adanya kematian pada awal proses budidaya. Manajemen pakan cukup baik, ditandai dengan ADG yang stabil di 0,13-0,31 gr. Manajemen kualitas air kurang baik, ditandai dengan adanya parameter masih kurang jauh dari ambang batas optimal dan memicu terserangnya penyakit. Manajemen kesehatan ikan kurang baik, ditandai dengan adanya penyakit yang menyerang pada pertengahan proses budidaya yaitu White Feses Deases. Jumlah tonase yang dihasilkan dalam satu siklus mencapai 4,614.54 kg/ 4,6 ton dengan total pakan 8,132 kg dan didapatkan FCR 1,75 untuk luasan kolam 3975 m2 dengan jumlah tebar 599,994 ekor benur dan didapatkan SR 75%.
Sedangkan saran yang dapat diberikan Perlu diadakan treatmen pada tandon sebelum masuk ke petakan untuk meminimalisir adanya hama atau penyakit yang menyebabkan terganggunya prosesnya budidaya. Sebaiknya dilakukan penyiponan agar tidak terjadi penumpukan bahan organik di dalam petakan sehingga lingkungan tetap terjaga dengan baik.







