Teknik pembesaran udang vannamei (litospanaeus vannamei) secara intensif di PT. Koyo Segoro Endah Unit Tangkilan, Desa Kebo Ireng, Kec. Besuki, Kab. Tulungagung, Jawa Timur
MELINDA PUTRI WERDANI.TBP.16.3.02.019. Teknik Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Secara Intensif di PT. Koyo Segoro Endah Unit Tangkilan Desa Kebo Ireng Kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur. Dibawah bimbingan Bapak Ir. Moh. Zainal Arifin, MP dan Bapak Mohsan Abrori S.Pi, M.Si.
Semakin meningkatnya permintaan udang dari tahun ketahun didasari oleh pertumbuhan penduduk dunia yang pesat dan kesadaran akan pemenuhan kebutuhan nutrisi, dimana udang mengandung banyak protein. Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) menjadi salah satu produk perikanan yang dapat menghasilkan devisi bagi negara. udang vannamei memiliki keunggulan yaitu: Produktivitasnya bagus karena ditunjang SR yang tinggi, lebih tahan terhadap lingkungan yang kurang baik, pakan yang diberikan membutuhkan kandungan protein yang lebih rendah, dan pertumbuhannya cepat.
Maksud dari pelaksanaan Kerja Praktek Akhir (KPA) ini adalah mengikuti seluruh kegiatan teknis budidaya udang vannamei (Litopenaeus vannamei) secara intensif di PT. Koyo Segoro Endah Unit Tangkilan di Desa Kebo Ireng Kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung Provinsi Jawa Timur
Tujuan dari Kerja Praktek Akhir (KPA) ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknik pembesaran udang vannamei (Litopenaeus vannamei) intensif di PT. Koyo Segoro Endah, mengetahui sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam kegiatan pembesaran udang vannamei (Litopenaeus vannamei), dan mengetahui hasil produksi (Biomass, Size, SR, dan FCR) budidaya udang vannamei (Litopenaeus vannamei).
Kegiatan Pembesaran udang vannamei meliputi : persiapan tambak, pemeliharaan udang vannamei, panen dan pasca panen.
Pada tahap persiapan, pengeringan petakan tambak yang ada di PT. KSE Unit Tangkilan dilakukan sebanyak 2 kali. Pengeringan tahap pertama dilakukan selama 3 – 5 hari setelah dilakukannya panen total. Setelah pengeringan yang pertama kemudian dilakukan pembersihan dinding dan lantai dasar petakan. Setelah petakan bersih dilanjutkan dengan pengeringan tahap kedua selama 1 – 2 minggu. Perbaikan dilakukan bilamana terdapat kerusakan pada petakan seperti kebocoran di dasar atau dinding petakan dan pada saluran pemasukan air yang bocor. Selanjutnya pemasangan fasilitas budidaya meliputi pemasangan kincir, anco, autofeeder, alat sipon, tali tambang, pemasangan water level, dan pemasangan protektor karir. Pengisian air dilakukan dengan mengalirkan air dari tandon biologis menuju tandon treatment tanpa penambahan kaporit dan dialirkan ke petak pembesaran setinggi 30 cm kemudian dilakukan penambahan kaporit dengan dosis 100 ppm. Selanjutnya dilakukan pengendapan selama 2 hari dan endapan ditap melalui pipa outlet agar terbuang. Tahap kedua, dilakukan penambahan air sampai ketinggian air mencapai 100 cm. Setelah itu dilakukan proses strerilisasi dan penumbuhan plankton.
Benur yang ditebar adalah benur PL 10 dengan keturunan F1 yang berasal dari PT. CPB Situbondo dilengkapi dengan sertifikat kualitas benur. Sebelum ditebar dilakukan perhitungan dan aklimatisasi. Benur yang ditebar dipetak seluas 3568 m² sebanyak 419.400 dengan padat tebar 117 ekor/m2.
Pakan yang digunakan adalah pakan merk Irawan dengan kandungan protein 28-30%. Pemberian pakan pada DOC 30 dilakukan dengan cara Blind Feeding dan pada DOC 30 – panen dilakukan perhitungan Feeding Rate. Dengan frekuensi pemberian 4 – 5 kali. Total pemberian pakan selama budidaya adalah 9824.5 kg dan menghasilkan FCR 1.62.
Pengelolaan kualitas air yang dilakukan salah satunya adalah pengukuran parameter kualitas air harian dan mingguan, yang meliputi: Suhu 28-32oC; Salinitas 25-31 ppt; pH 7,4–9,0; DO 3,5 – 4,8 ppm; Kecerahan 30-60 cm; Warna air hijau muda, hijau, hijau coklat, coklat muda; Tinggi air 110-120 cm; Alkalinitas 100-120 ppm; Amonium 0-1 ppm; Phospat 0-5 ppm; Nitrit 0-1 ppm; Nitrat 0-8 ppm; TOM 60-135 ppm.
Monitoring pertumbuhan dilakukan dengan cara sampling yang dilakukan pada umur 40 hari dan dilakukan setiap 10 hari sekali. Dan didapat laju pertumbuhan 0,16– 0,42 gram.
Panen dilakukan dengan 2 cara yaitu parsial dan total. Panen parsial dilakukan 4 kali pada DOC 71 ,77, 84, 90. Panen total dilakukan pada DOC 100 dengan total biomass 6058.5 kg, size 50, ABW 20 gr, SR (Survival Rate) 94.09%, dan FCR (Food Convention Rate) 1,62.
Kesimpulan yang dapat diambil yaitu Persiapan lahan yang dilakukan sudah baik, dibuktikan selama proses kegiatan budidaya tidak mengalami gangguan teknis pada lahan budidaya. Benur yang ditebar berkualitas sehingga selama budidaya tidak ditemukan penyakit pada udang. Manajemen pakan yang sudah baik, dibuktikan dengan pakan yang diberikan berkualitas dengan jenis, dosis, frekuensi, dan cara pemberian yang tepat sehingga diperoleh FCR sesuai target perusahaan. Pengelolaan kualitas air yang sudah baik, dibuktikan dengan monitoring parameter kualitas air yang teratur dan perlakuan yang tepat sehingga kualitas air tetap terjaga (optimal) selama budidaya. Pertumbuhan udang vannamei selama budidaya sudah baik, dibuktikan dengan laju pertumbuhan udang yang stabil.
Dari kesimpulan di atas penulis dapat memberikan saran sebaiknya ada pemanfaat limbah kegiatan pembesaran udang vannamei sehingga keseimbangan daya dukung lingkungan tetap terjaga, menghindari resiko terjadinya penyebaran penyakit menular dan agar mutu sumber air tetap terjaga.







