Teknik pembesaran udang vannamei (litospanaeus vannamei) secara intensif di PT. Menjangan Mas Bali
I Putu Lanus Ari Nurjana. NIT. 16.3.02.010. Teknik Pembesaran Udang Vannamei (Liptopenaeus vannamei) Secara Intensif Di PT. Menjangan Mas Bali Desa Penjarakan Kecamatan Gerogak Kabupaten Buleleng Provinsi Bali Di bawah bimbingan Ir Moh Zainal Arifin, MP selaku dosen penguji I dan Mohsan Abrori S.Pi. M.Si selaku dosen penguji II dan Penguji III Ir. Teguh Harijono, MP
Udang merupakan salah satu komoditas ekspor dari sub sektor maupun luar negeri yaitu udang vaname (Litopenaeus vannamei). Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan perkiraan kebutuhan udang vaname di Jepang 420.000 ton/tahun, Amerika Serikat sebesar 560.000-570.000 ton/tahun dan Uni Eropa 230.000-240.000 ton/tahun. Dijelaskan oleh Direktorat Jendral Perikanan Budidaya pada tahun 2013, Indonesia baru memproduksi udang vaname sebesar 500.000 ton/tahun. Hasil tersebut belum mencukupi semua kebutuhan pasar dunia, maka pada tahun 2014 target produksi udang vaname ditingkatkan menjadi 699.000 ton/tahun agar dapat memenuhi kebutuhan pasar tersebut (Erlando et al., 2015).
Kerja praktek akhir dilaksanakan di PT. Menjagan Mas Bali Desa Penjarakan Kecamatan Gerogak Kabupaten Buleleng Provinsi Bali tanggal 4 maret – 24 mei 2019.
PT. Menjangan Mas Bali berlokasi di Desa Pejarakan Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Provinsi Bali. Lokasi perusahaan berdekatan dengan kampung Sumberkima, dengan jarak tempuh sekitar 4-5 jam dari kota Denpasar atau kurang lebih 30-45 menit dari pelabuhan Gilimanuk.
Persiapan tambak meliputi pengeringan, pembersihan dasar tambak, pembersihan peralatan, perbaikan jembatan anco yang diikuti dengan pemasangan anco, pemasangan kincir awal, pengisian air dan pembentukan plankton. Pengeringan dilaksanakan selama 10 – 30 hari dengan tujuan untuk mempercepat oksidasi bahan-bahan beracun seperti : nitrit, amoniak,. Hal ini sependapat dengan BPTP Sulawesi Selatan (2008), yang menyatakan bahwa pengeringan ini dimaksudkan untuk mengurangi senyawa – senyawa asam sulfide dan senyawa beracun. Pada awal pemeliharaan menggunakan 4 kincir dan setelah berumur 40 hari ditambah menjadi 8 kincir. Sterilisasi air menggunakan kaporit sebanyak 20 ppm dengan cara ditebar keseluruh bagian tambak dan diendapkan selama 24 jam. Setelah 24 jam dilakukan pembentukan plankton dilakukan dengan cara pemberian kaptan 10 – 20 ppm tiap hari pada pagi hari, pupuk ZA 5 ppm tiap 5 hari sekali pada pagi hari, biakan Bacillus sp 10 ppm tiap hari pada sore hari, biakan Thiobacillus sp 2 ppm tiap hari pada pagi hari.
Benur diperoleh dari Situbondo, keturunan F1 dengan harga Rp. 33,-/ekor. Benur ditebar dengan padat tebar 84 ekor/m2. Aklimatisasi suhu dilakukan sebelum benur ditebar. Aklimatisasi salinitas tidak dilakukan di tambak, tapi telah dilakukan sebelumnya di hatchery. Aklimatisasi suhu dilakukan dengan membiarkan kantong plastik berisi benur ke dalam petakan selama 20 – 30 menit. Penebaran dilakukan pada malam hari antara pukul 19.00 – 22.00. Untuk mengetahui estimasi Sintasan/SR (survival rate) benur yang ditebar, diambil 200 ekor benur dari sampel penghitungan yang dibiarkan selama 48 jam.
Pakan yang diberikan berupa pelet. Pemberian pakan dilakukan 5 kali sehari yaitu pada pukul 07.00, 11.00, 15.00, 19.00 dan 22.00. Dosis pemberian pakan awal yang diberikan yaitu 1 kg untuk 100.000 ekor benur, dengan penambahan pakan 1 kg setiap hari hingga berumur 30 hari. Untuk dosis umur 30 hari – panen berdasarkan standart pakan perusahaan dan berpatokan pada kontrol anco untuk penambahan atau pengurangannya. Cara pemberian dilakukan dengan cara pakan ditebar mengelilingi tambak dengan jarak 1 – 2 meter untuk umur 1 – 30 dan 6 – 7 meter untuk umur 30 sampai panen.
Pengelolaan kualitas air meliputi monitoring kualitas air, penyiponan, pengapuran dan aplikasi probiotik. Monitoring kualitas air dilakukan pada pagi dan siang hari kecuali DO, DO diukur hanya pada waktu malam hari. Monitoring meliputi : DO 4 – 7 ppm, pH 7 – 8,5 , salinitas 5 – 25 ppt, kecerahan 20 – 30 cm. Penyiponan dilakukan dengan menggunakan selang spiral yang panjangnya diusahakan dapat mencapai pinggir tambak dan cara yang digunakan mengguanakan sistem gravitasi dengan memasang selang pada central drainese.
Monitoring pertumbuhan yang dilakukan memiliki 3 tujuan, yaitu pengamatan terhadap pertumbuhan, populasi dan kesehatan udang. Kegiatan monitoring dapat dilakukan dengan sampling. Kegiatan sampling dilakukan mulai saat umur 40 hari dan kemudian dilanjutkan 7 hari sekali. Hal ini sesuai dengan Balio dan Tookwinas (2002), bahwa monitoring pertumbuhan dilakukan dengan interval waktu seminggu sekali.
Hama yang menyerang udang vannamei pada saat KPA adalah kepiting, dan ikan – ikan kecil. Hanya dilakukan penanggulangan saja dengan memasang strimin Sedangkan penyakit yang menyerang udang Vannamei ialah IMNV (Invections Myonecrosis Virus). Virus ini dapat menyebabkan kematian massal. Untuk penanganan dapat dilakukan dengan menjaga kestabilan kualitas air, pencampuran vitamin C pada pakan (imunostimulant).
Pemanenan udang vannamei dilakukan dengan 2 cara, yakni panen parsial dan panen total. Penentuan waktu panen parsial biasanya dilakukan pada usia udang mendekati 70 hari. Panen parsial bertujuan untuk mengurangi populasi udang vannamei di petakan tambak sehingga pertumbuhan udang maksimal. Panen total dilakukan pada pagi hari dengan cara membuang seluruh air petakan melalui pintu outlet yang telah dipasang jaring agar udang tidak lepas ke saluran pembuangan. Setelah itu dilakukan penyortiran oleh pihak pengepul. Kemudian seluruh udang dimasukkan dalam keranjang plastik, penimbangan dan penghitungan size biasanya disesuaikan dengan kesepakatan antara pihak tambak dan pembeli.
Dari pemanenan dapat diperoleh produksi Panen parsial dengan size 51 didapat 1072,5 kg. Sedangkan panen total dengan 3348 kg dan size 32/kg sehingga dapat diketahui SR 62 %. Selama pemeliharaan menghabiskan pakan sebanyak 6604 kg sehingga diketahui FCR sebanyak 1,49.







