Teknik pembesaran udang vannamei (litospanaeus vannamei) secara intensif dengan sistem semifloc, di CV. Muara Mas, Desa Patoman, Kec. Rogojampi, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur
Muhamad Tri Agus Setiawan. 16. 3. 02. 022. Teknik Pembesaran udang vannamei (Litopenaeus vannamei) Secara Intensif dengan Sistem Semiflok di CV. Muara Mas Desa Patoman Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi Di bawah Dosen Pembimbing I Bapak Agus Widodo S.Pi. MT dan Dosen Pembimbing II Ibu Lusiana BR Ritonga, S.Pi, M.P.
Sistem budidaya semiflok merupakan perpaduan dari budidaya sistem plankton dan sistemflok. Sebagaimana yang diketahui, pakan yang digunakan dalam budidaya udang memiliki kandungan protein tinggi. Pakan yang diberikan tidak seluruhnya mampu diasimilasi oleh tubuh ikan. Hanya sebagian saja yang mampu diasimilasi kedalam tubuh sedangkan sisanya terbuang ke perairan dalam bentuk sisa pakan dan buangan metabolit. Sisa pakan dan buangan metabolit ini menjadi suatu masalah pada tambak udang karena unsur protein yang terlarut akan segera membentuk amoniak yang sangat berbahaya bagi organisme akuatik khususnya udang. Dalam sistem semiflok, amoniak dapat di ubah menjadi amonium dan nitrat sehingga dapat di manfaatkan plankton untuk fotosintesis sehingga dapat mengurangi kerusakan kualitas air dapat diminimalisir. Selain itu fungsi bakteri juga dapat menekan tumbuhnya bakteri pathogen.
Pada tahun 2017, produksi udang vannamei di Indonesia tidak optimal karena produksi yang menurun. Kompas (2018) mencatat, produksi udang vannamei tahun 2017 hanya mencapi 300.000 ton, padahal pada tahun 2016 produksi udang mencapai 315.000 ton. Berdasarkan data KKP (2008), volume ekspor pada tahun 2017 sebesar 147.574 ton sedangkan volume ekspor pada tahun 2016 sebesar 167.152 ton. Menurunnya tingkat produksi disebabkan karena penyakit sehingga menghambat produksi udang vannamei nasional.
Maksud dari pelaksanaan Kerja Praktek Akhir ini adalah mengikuti seluruh tahapan kegiatan budidaya udang vannamei secara intensif dengan Tujuan dari Kerja Praktek Akhir (KPA) ini adalah (1) Mengetahui dan mampu melakukan teknik pembesaran udang vaname (litopenaeus vannamei) secara intensif dengan sistem semi floc di CV. Muara Mas. (2) Melakukan analisis teknis pembesaran udang vannamei meliputi sistem budidaya, persiapan media, penebaran benur, manajemen pakan, manajemen kualitas air, manajemen kesehatan udang, biosecurity, panen, dan pasca panen (3) Melakukan analisis pendapatan usaha pembesaran udang vannamei.
Kerja Praktek Akhir ini telah dilaksanakan pada tanggal 4 Maret sampai dengan 24 Mei 2019 di CV. Muara Mas, Dusun blibis Desa Patoman Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Metode yang digunakan adalah metode magang (Yusuf 2009). Teknik pengumpulan data adalah dengan observasi, partisipasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengolahan data yang digunakan yaitu editing, tabulating, analisis data teknis dan analisis data ekonomi (Nazir, 1988).
Persiapan Tambak di CV. Muara Mas ± 15 hari, meliputi Pengeringan Seminggu, membersihkan kotoran dan klekap kemudian dibuang selanjutnya perbaikan kontruksi tambak yang rusak, kemudian persiapan air media yaitu tambak diisi air laut setinggi 60 cm untuk dilakukan pencucian dengan Trichloroisocyanuric acid (TCCA) dengan dosis 20 ppm bertujuan untuk membunuh pathogen selama 1 hari lalu air dibuang. Tambak kemudian diisi air kembali setinggi 2 meter untuk dilakukan treatment air media, aplikasi Bestacine 1,5 ppm selama 3 hari, aplikasi Saponin 20 ppm selama 10 hari, selanjutnya aplikasi fermentasi dedak, ragi dan Aquazyme.
Penebaran dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu. Padat tebar benur 120 ekor/m2 dengan jumlah total benur yang ditebar 150.000 ekor pada tambak seluas 1.250 m2.
Manajemen pakan, pada awal tebar, pada DOC 1 – 17 menggunakan program blindfeeding dan pasca pakan yaitu menggunakan penambahan pakan sebanyak 0,5 – 1,5 kg perhari dengan melihat kondisi udang dan kontrol anco. Kontrol anco mulai diturunkan pada DOC 17.
Monitoring pertumbuhan pertama kali dilakukan setelah udang berumur 42 hari, dan dilakukan setiap 7 hari sekali. Monitoring pertumbuhan berguna untuk menentukan dosis pakan dan kesehatan udang. Monitoring pertumbungan dengan cara sampling. hasil pengukuran paramater kualitas air yaitu suhu berkisar 32 – 33 0C, kecerahan berkisar antara 65 – 35, pH berkisar 8,7 – 7,7, salinitas berkisar 25 – 30, TOM berkisar 21 – 44, alkalinitas berkisar 110 – 155, ammonium berkisar 0,00 – 2,00, nitrit berkisar 0,00 – 2,50, nitrat 10,00 – 25,00 dan phospat berkisar 0,00 – 3,00. Sedangkan untuk pengendalian kualitas air menggunakan aplikasi probiotik dan penyiponan.
Untuk pengendalian hama CV. Muara Mas penerapan biosecurity, dan penggunaan probiotik. Pada pelaksanaan KPA terdapat penyakit yang menyerang yaitu White Feeses Desease (berak putih), penanganan yang dilakukan adalah dengan mengurangi dosis pakan dan memberi tambahan aplikasi terhadap pakan berupa Lacto Bacillus.
Pemanenan dilakukan langsung secara total dengan membuka pintu pembuangan kemudian pemasangan kondom, kemudian udang dipindahkan ketempat sortasi dan dilakukan pengelolaan pasca panen.
Setelah proses budidaya dan udang mencapai ABW 16,7 gr (Size 60), dilakukan proses pemanenan terhadap udang yang dipelihara. Dari jumlah tebar benur 150.000 ekor didapat biomassa panen sebanyak 2.115 Kg. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 2.705 Kg maka didapatkan FCR 1,27 dengan SR 84,6 %.
Analisa usaha satu siklus mendapatkan keuntungan bersih 28.855.000 dengan nilai BEP rupiah Rp. 74.349, Payback period 0,6 tahun dan R/C ratio 1,26.







