Teknik pembesaran udang vannamei (litospanaeus vannamei) secara intensif dengan metode Semi closed system di PT Andulang Shrimp Farm Dusun Laok Lorong Desa Andulung Kec. Gapura Kab. Sumenep, Jawa Timur
DEA RIZA ZAINURIFA’. 16.3.02.005. Teknik Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus Vannamei) Secara Intensif Dengan Metode Semi Closed System Di Pt. Andulang Shrimp Farm Dusun Laok Lorong Desa Andulang Kecamatan Gapura. Kabupaten Sumenep, Madura Provinsi Jawa Timur. Di bawah bimbingan dosen pembimbing 1 bapak Mohsan Abrori, S.Pi, M.Si dan dosen pembimbing 2 bapak Agus Widodo, S.Pi, MT.
Tujuan dilakukannya Kerja Praktek Akhir ini adalah 1) Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknik pembesaran udang vannamei secara intensif dengan sistem semi tertutup, 2) Mengetahui pendapatan dan kelayakan usaha dari kegiatan pembesaran udang vannamei, dan 3) Mengetahui hasil produksi dari teknik pembesaran udang vannamei di PT. Andulang Shrimp Farm Dusun Laok Lorong Desa Andulang Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep, Madura Provinsi Jawa Timur.
Persiapan media meliputi perbaikan kontruksi tambak yaitu yaitu memperbaiki kebocoran plastik HDPE, penutup outlet yang tidak rapat, penggantian pancang kincir, dan perbiakan kincir yang baling-balingnya tidak bisa memutar. Pembersihan tambak dilakukan 2 kali, yaitu pembersihan pasca panen menggunakan kaporit 100 ppm (5 kg kaporit dilarutkan dengan 50 liter air) lalu disiramkan pada tritip dan lumut, dan pembersihan total dilakukan sehari setelah pemberian kaporit. Pembersihan total yaitu menyemprot dengan tekanan tinggi dan tritip yang mati dibuang pada pintu outlet dan Central drain. Pengeringan dilakukan selama 3 hari, pemasangan sarana berupa pemasangan rakit, dan pemasangan pipa central drain. pemasangan kincir dilakukan dengan memasang kincir pada pancang kincir, lalu dilakukan pengisian air dengan ketinggian 100 cm dan di treatmen menggunanakan TCCA 30 ppm. Kemudian dilakukan penumbuhan plankton dengan menggunakan fermentasi 19 ppm. Aplikasi azomite sebanyak 3 ppm. Plankton akan tumbuh setelah 24 jam pemberian fermentasi.
Benur yang berasal dari Hatchery Ndaru Laut Situbondo stadia 9 – 10 yang sudah bersertifikat SPF dan lolos uji PCR. Sebelum ditebar, benur dilakukan pengecekan benur di laboratorium. Berupa kualitas air, stressing tes Lalu benur dihitung jumlah per kantong untuk menentukan padat tebarnya. Padat tebar benur dalam petakan adalah 178 – 188 ekor / m2 atau 377.393 ekor pada luasan 2.010 m2 dan 347.920 ekor pada luasan 1950m2. Penebaran benur dilakukan pagi hari pukul 05.00 – 07.00 WIB melalui aklimatisasi suhu dan salinitas.
Pakan yang digunakan berasal dari pakan CJ Feed jombang dengan kode SS jenis crumble dan pelet.. Program pemberian pakan terdiri dari 2 yaitu program blind feeding selama 20 hari dengan ketentuan 3 kg/ 100.000 ekor benur. Penambahan pakan per hari pada DOC 1 – 10 adalah 0,2 kg per pemberian pakan, DOC 11 – 20 adalah 0,4 kg per pemberian pakan, dan dilanjut dengan program pakan pasca Blind feeding adalah melanjutkan program pakan blind feeding, dimana penambahan dan pengurangan pakan berdasarkan anco. Penambahannya 3-5 kg per pemberian pakan. Pemberian pakan dilakukan selama 5x sehari.
Monitoring kualitas air terdiri dari pengecekan kecerahan rata-rata 50 cm pagi hari dan 47 cm pada sore hari. warna air terdiri dari CH, C, H, dan HC, pH rata-rata 8,6 dan sore 7,9, salinitas rata-rata 31 ppt,alkalinitas rata-rata 110 mg/l,DO rata-rata 4,99 pada subuh dan 5,15,suhu rata-rata 28oC pada malam hari dan subuh 27oC, TOM rata-rata 51 mg/l, NH4 rata-rata 1,9 mg/l, NO2 rata-rata 3,44 mg/l, dan PO4 rata-rata 3,78 mg/l. pengelolaan kualitas air meliputi penyiponan dilakukan ketika udang berumur 18 hari dan dilakukan setiap 3 hari sekali. Dilakukan penambahan air berdasarkan Semi Closed System (Sistem Semi Tertutup) yakni sebelum dilakukan penambahan air di petakan, air laut harus di sterilkan menggunakan TCCA 30 (60 kg TCCA ditebar pada petakan seluas 2000 m2 dengan ketinggian 120 cm) Penambahan air pertama kali dilakukan saat udang berumur 13 hari. Jenis probiotik yang digunakan adalah Aquazime dan biomine dengan dosis 6 ppm yang ditebar pada sore hari secara selang seling bergantian. Dan Pengapuran menggunakan Kaptan diberikan setiap 2 hari sekali dengan dosis 8 ppm secara rutin.
Monitoring pertumbuhan dilakukan 10 hari sekali menggunakan pengambilan sampel udang dan menghasilkan ABW dan ADG yang menghasilkan ABW rata-rata 23,63 gram dan rata-rata ADG 0,3 gram. .selain itu, dilakukan Monitoring kesehatan udang berupa pengecekan hepato berupa kerutan, gregarin dan lipid,pada kaki, ekor, dan insang dilakukan pengecekan filament dan nekrosis pada udang.
Hama yang sering menyerang pada tambak adalah kepiting, tritip, dan ular. Sedangkan penyakit yang menyerang udang adalah WFD (White Feces Disease).
Prinsip biosecurity yang digunakan di PT. Andulang Shrimp Farm, yang dapat menentukan keberhasilan budidaya adalah 50% benur, 30% biosecurity, dan 20% system.
Panen parsial 1 pada DOC 60an dengan rata-rata tonase panen sebanyak 660 kg, parsial kedua pada DOC 80an dengan rata-rata tonase panen sebanyak 941 kg. dan panen total dilakukan pada DOC 103 SR panen sebesar 78,37%, ABW 28,49 gram, size 35, FCR 1,40 pada DOC 105 dan menghasilkan biomas sebanyak 7.864 kg. SR panen sebesar 78,37%, ABW 28,49 gram, size 35, FCR 1,40 pada DOC 105 dan menghasilkan biomas sebanyak 7.864 kg.
Berdasarkan analisa kelayakan usaha, budidaya udang di PT. ASF sudah layak di lanjutkan dengan Keuntungan sebesar Rp8,468,480,000 dan R/C Ratio sebesar 1,15
Kesimpulan yang dapat diambil yaitu proses budidaya yang dilakukan sudah baik. Dibuktikan dengan tidak adanya penyakit yang menyerang pada petak D1 dan D5. Manajemen pakan sudah baik, dibuktikan dengan SR panen sebesar 78,37%, ABW 28,49 gram, size 35, FCR 1,40 pada DOC 105 dan menghasilkan biomas sebanyak 7.864 kg. ADG rata-rata 0,3 gram/hari dan FCR rata-rata 1,40, pengelolaan kualitas air sudah cukup baik dengan hasil pengukuran kualitas air masih dalam batas normal.
Dari kesimpulan diatas, penulis dapat memberikan satan sebaiknya pemanfaatan limbah kegiatan pembesaran udang vannamei sehingga keseimbangan daya dukung lingkungan tetap terjaga. Serta lebih ditingkatkan lagi penerapan biosecuriti khususnya tentang pencucian tangan menggunakan larutan KMnO4 setelah keluar atau akan memasuki petakan.







