Teknik pembesaran udang vannamei (litospanaeus vannamei) secara intensif di CV Agrabinta Shrimp Farm desa Wangunjaya Kec. Agrabinta Kab. Cianjur Jawa Barat
RESA FEBRIANA INDRIATI. NIT 16.3.02.029 Teknik Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) secara intensif di CV. Agrabinta Shrimp Farm Desa Wangunjaya Kecamatan Agrabinta Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat.(Di bawah bimbingan Ir. Moh. Zainal Arifin, MP. selaku Dosen Pembimbing I dan Ir. Teguh Harijono, MP. selaku Dosen Pembimbing II).
Tujuan dilaksanakannya Kerja Praktek Akhir ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari teknik budidaya udang vannanmei secara intensif serta mengetahui hasil budidaya udang vannamei di CV. Agrabinta Shrimp Farm.
Persiapan media dilakukan dengan cara menyikat seluruh dinding HDPE sampai bersih. Kemudian disemprot dengan kaporit 100.000 ppm ( 10 kg kaporit dalam 100 liter air) dan keringkan 7 – 14 hari. Kemudian disemprot kembali dengan HCl 300 ppm (30 liter dalam 100 liter air) kemudian langsung dikeringkan 14 hari. Persiapan air dilakukan dengan cara mengalirkan air ke petakan hingga ketinggian 60 cm untuk kemudian dilakukan setting kincir. Air diisi kembali sampai ketinggian 120 cm dan ditreatment dengan TCCA 30 ppm (90 kg TCCA dalam 3000 m3 air ). Kemudian H–12 sampai H – 2 sebelum penebaran dilakukan penumbuhan plankton dengan menggunakan fermentasi dedak 19 ppm. Aplikasi kaptan dan dolomit 8,3 ppm dilakukan secara berselang-seling dengan fermentasi dedak. Selalu dilakukan monitoring kualitas air sebelum penebaran.
Benur yang ditebar adalah benur F1 berasal dari hatchery AYEN Lampung dengan stadia PL 10 dan berukuran 10 mm yang telah bersertifikat SPF dan lolos uji PCR. Sebelum ditebar benur dilakukan stressing test (salinitas). Penebaran benur dilakukan pagi hari pukul 05.00 – 07.00 WIB melalui aklimatisasi suhu dan salinitas ±30 menit. Padat penebaran benur berkisar 159 – 168 ekor/m2.
Pengelolaan pakan pada DOC 1-25 menggunakan blind feeding dengan ketentuan 2,2 kg/100.000 ekor benur. Penambahan pakan perhari pada DOC 1 – 6 adalah 1 kg, pada saat DOC 7 – 13 ditambahkan 1 – 2 kg, pada saat DOC 14 – 24 ditambahkan sebanyak 2 – 3 kg. Program pakan pasca blind feeding adalah melanjutkan program pakan blind feeding, dimana untuk penambahan dan pengurangan pakan berdasarkan kontrol anco. Pada DOC 1- 10 pakan diberikan sebanyak 3 kali, pada DOC 11 – 27 pakan diberikan 4 kali, dan pada DOC 28 – panen pakan diberikan 5 kali. Pakan diberikan secara manual pada DOC 1-36 dan pada DOC 37-60 menggunakan automatic feeder. Kemudian pada DOC 61-panen pakan diberikan secara manual kembali. Feed addictive yang diberikan adalah vitamin C dengan dosis 5 gr/1kg pakan dan bioenzyme dengan dosis 5 ml/1kg pakan, diberikan setiap 2 hari sekali, dimulai pada DOC 30 hingga panen. Selama pemeliharan dibutuhkan pakan sebanyak 7.941 – 9.428 kg pakan.
Pengelolaan kualitas air meliputi penambahan dan pergantian air saat DOC 20 saat tinggi air 100 sipon setiap hari, kematian >500 setiap hari pagi dan sore. Pengetapan dilakukan mulai DOC 21 dan dilakukan setiap kali cek anco. Sedangakan untuk pengapuran dilakukan setiap 3 hari sekali pada siang hari dengan menggunakan kaptan (CaCO3) dengan dosis 8,3 ppm. Hasil pengukuran kualitas air meliputi kecerahan (25 – 100 cm), DO (3,5 – 5,4 ppm), suhu (27,60C – 30,250C), pH (7,55 – 8,7), salinitas (24 – 29 ppt), alkali ( 78 – 104 ppm), TOM (27,37 – 67,3 ppm), NH4 (0,5 – 10 ppm), NO2 (0,05 – 10 ppm).
Selama masa budidaya tidak ditemukannya penyakit karena dilakukan upaya pencegahan berupa pemasangan jaring disekeliling tambak untuk mencegah hama masuk ke petakan. Selain itu sumber benur yang digunakan telah bersertifikat, dan selama masa pemeliharaan diberikan feed addictive berupa vitamin C dan bioenzyme sebagai immunostimulan dan membantu pencernaan dalam tubuh udang.
Monitoring pertumbuhan dilakukan setiap 10 hari sekali. Pada DOC 1-30 dilakukan dengan sampling anco, pada DOC 30 – panen dilakukan dengan sampling jala. Dari sampling, didapatkan ADG berkisar 0,25 – 0,37 gr/hari dan ABW panen berkisar 20,12 – 25,39 gr.
Panen parsial dilakukan pada DOC 60 dengan tonase rata-rata 1.296,33 kg. Panen total dilakukan pada DOC 77 – 87 dengan tonase berkisar 6.890,54 kg - 6981,13 kg dengan rata rata 6,947,62 kg, ABW 20,12 - 25, 39 gr dengan rata – rata 21,96 gr , size 39,93 ekor - 49,71 ekor dengan rata – rata 46,24 ekor SR 76% - 94% dengan rata – rata 86% .
Kesimpulan yang dapat diambil yaitu proses budidaya yang dilakukan sudah baik, dibuktikan selama proses kegiatan budidaya tidak ditemukan penyakit pada udang. Manajemen pakan yang sudah baik, dibuktikan dengan pertumbuhannya yang baik dengan ADG rata-rata 0,33 gr/hari dan FCR rata-rata 1,3. Pengelolaan kualitas air yang cukup baik, dibuktikan dengan hasil pengukuran yang masih dalam batas toleransi namun untuk kandungan NO2 dan NH4 terbilang tinggi yang berpotesi kematian pada udang.
Dari kesimpulan di atas penulis dapat memberikan saran sebaiknya ada pemanfaatan limbah kegiatan pembesaran udang vannamei sehingga keseimbangan daya dukung lingkungan tetap terjaga. Penambahan penggunaan probiotik yang mengandung bakteri nitrifikasi dan penambahan dosis dan frekuensi pemberian kaptan mengingat sumber air memiliki alkalinitas yang rendah.







