Membela nelayan
Masalah sosial ekonomi, dan lingkungan yang kronis, serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah seagai basis kehidupan, merupakan gambaran kontrastif kehidupan nelayan di berbagai daerah pesisir. Nelayan kurang memiliki keberdayaan untuk mengelola potensi sumber daya alam yang ada di sekelilingnya secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Penyebabnya adalah karena strategi pembangunan yang diimplementasiikan selama ini, lebih berorientasi pada pencapaian surplus ekonomi semata, dengan dukungan kekuatan modal, teknologi dan pasar yang tidak banyak berimbas langsung pada kepentingan nelayan.
Buku ini terdiri dari dua belas bab. Pada bab satu sampai dengan bab enam, pembahasannya mencakup; koperasi sebagai pilar utama pemberdayaan masyarakat pesisir; paradigma pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya laut dan pesisir; strategi sosial budaya membangun masyarakat Sumenep kepulauan; kemitraan nelayan dan pangamba’ dalam membangun ekonomi pesisir; strategi peningkatan kapasitas organisasi dan jejaring masyarakat nelayan.
Pada bab ke tujuh sampai dengan bab ke duabelas, pembahasannya mencakup; pengelolaan potensi ekonomi di kawasan pesisir selatan Jember, dinamika kebudayaan pesisir Jawa Timur: tantangan ekologi dan kesejahteraan; menggagas Sumenep sebagai ibu kota propinsi Jawa Timur; “Beach Clean Up” sebagai gerakan budaya masyarakat kota pantai; program regenerasi nelayan dan pembangunan masyarakat pesisir; dan Pegunungan Tumpang Pitu : sabuk pengaman pesisir yang akan musnah. (Mardiah).







